Dalam bab ini Jim Collins membagi pembahasan mengenai Stage 1: Hubris Born of Success dlm 5 pokok bahasan sebagai berikut:

1. Success Entitlement, Arrogance (Kepemilikan Sukses, Keangkuhan)

Disini Jim memberikan contoh bagaimana Motorola, perusahaan komunikasi Amerika yang sebelumnya sukses besar dengan alat telekomunikasi berjalannya, hancur karena keangkuhannya dalam memandang sukses. Dikisahkan bahwa pada 1995 Motorola bermaksud mengeluarkan telepon bernama StarTac yang mereka dapuk tercanggih dan tertipis di kala itu. StarTac masih menggunakan sistem analog, sementara Motorola tidak menyadari bahwa era digital telah akan datang. Selain itu Motorola juga memaksakan distribusi tunggal kepada partner mereka yaitu Bell Atlantic dan secara sombong memberikan perintah. Maka akhir cerita Motorola mengalami kejatuhannya hingga sekarang.

Inti dari contoh di atas adalah bagaimana Motorola melihat sukses sebagai kepemilikan yang memang seharusnya mereka miliki dan keberhasilan akan selalu ada untuk mereka.

2. Neglect A Primary Flywheel (Mengacuhkan Roda Utama)

Masih ingat Circuit City? Yang dalam buku Good to Great termasuk sebagai salah satu contoh perusahaan acuan?
Dalam bahasan ini Circuit City dikisahkan mengalami kehancuran hingga bangkrut karena tidak berfokus pada Roda Utamanya yaitu sebagai retail elektronik. Alih-alih membesarkan bisnis retail elektroniknya, Circuit City tergiur untuk masuk ke bisnis mobil bekas dengan nama CarMax dan persewaan Dvd bernama Divx. Hasilnya keduanya bahkan bisnis utamanya di retail elektronikpun hancur dan tergilas oleh BestBuy.
Inti dari bahasan ini adalah kehancuran bisa diakibatkan karena kita Mengacuhkan Roda Utama kita dan tergiur atau teralihkan kepada petualangan
lain.

3. “What” Replaces “Why” (Apa menggantikan Kenapa”)

Layaknya dua contoh di atas, kehancuran mereka adalah disebabkan oleh karena mereka merasa kesuksesan diperoleh karena mereka telah melakukan hal-hal yang spesifik. Padahal seharusnya mereka merubah pandangan bahwa kesuksesan yang mereka peroleh adalah karena mereka paham mengapa mereka melakukan hal-hal spesifik tersebut dan dalam kondisi apa hal tersebut tidak akan berjalan lagi.

4. Decline in Learning Process (Penurunan Proses Belajar)

Karena sudah merasa sukses, maka tidak perlu lagi belajar.
Lain halnya dengan pendiri Wal-Mart, yaitu Sam Walton yang selalu ingin mempelajari segala hal yang berhubungan dengan bisnisnya.

Ada catatan dari saya mengenai Wal-Mart yang menurut saya pernah mengalami kegagalan di Indonesia dalam bisnisnya. Saya rasa Wal-Mart tidak mempelajari budaya dan iklim di Indonesia sebelum masuk ke pasar Indonesia. Di tahun 90-an, Wal-Mart pernah membuka gerainya di Karawaci. Gerainya bagus dan mewah, sangat menyenangkan untuk berbelanja. Namun barang yang dijual sangat tidak masuk akal dengan harga yang premium. Hal yang konyol adalah: menjual jaket musim dingin (winter fur) di Indonesia?? Come on Wal-Mart :p.

5. Discounting the Role of Luck (Mengabaikan Faktor Keberuntungan)

Sehebat apapun pebisnis, pasti ada faktor keberuntungan yang menaunginya, jadi, jangan pernah mengabaikan keberuntungan.

Advertisements