Dalam Stage 4 ini, Collins mengetengahkan pembahsan mengenai perusahaan-perusahaan besar Amerika yang mengelami kesekaratan pada era-nya, di antaranya adalah HP, Circuit City, IBM dan TI. Namun yang paling menarik adalah HP dan IBM.

HP

Lew Platt adalah CEO HP periode 1992 yang berhasil membawa masa keemasan HP hingga 1998, dan di tahun 1999 mengalami kejatuhannya. Kejatuhan HP diakibatkan oleh keinginan untuk berkembang sebesar-besarnya tanpa memperhatikan keberlangsungan perusahaan di masa depan. Platt tidak pernah memperhitungkan perkembangan dunia internet yang mulai berkembang di awal 1999. Carly Fiorina dari Lucent Technologies yang kemudian menggantikan Platt. Fiorina mencoba mengembalikan kembali kejayaan HP dan memberikan tagline “Invent” hingga saat ini.  Kemudian Fiorina mencoba membenahi HP dengan menyewa konsultan agar HP dapat bersaing di era internet. Namun perubahan yang dilakukan Fiorina terlalu cepat dan sama dengan pendahulunya Platt, akhirnya HP kembali jatuh dan Fiorina mengundurkan diri pada 7 Februari 2005.

IBM

Berbeda dengan HP, IBM mengangkat Louis V. Gestner sebagai CEO pada 1993. Menurut Gestner yang diperlaukan IBM adalah Visi. Alih-alih melakukan perubahan drastis seperti Fiorina, Gestner sibuk mencari orang-orang yang tepat untuk menjalankan rencananya. Gestner bahkan mebutuhkan waktu 3 bulan untuk mengerti kondisi IBM. Di saat itu bahkan saham IBM turun hingga 6% dan banyak kalangan meragukan bahwa IBM akan bangkit, Gestner pun di cap sebagai “Tidak Melakukan Apapun”. Ketika ditanya oleh jurnalis mengenai “sense of crisis”, Gestner malah menajwab bahwa dia tidak memiliki “sense of crisis” yang dia punya adalah “sense of urgency”. Dengan disiplin, Gestner memilih orang-orang yang tepat, memahami situasi di IBM dan kemudian melakukan pembenahan Visi dan Strategy perusahaan. Di era Gestner, setelah mengalami penurunan 6%, perlahan tapi pasti mengalami kenaikan mulai 5% dan diakhiri dengan 9% sesaat sebelum Gestner mengundurkan diri.

Collins menyatakan bahwa kegagalan HP dikarenakan management hanya menginginkan “Peluru Perak” untuk mencari penyelamatan namun tidak memperhatikan bagaimana perkembangan tersebut bisa terus berkelanjutan.

Advertisements