Buku ini dimulai dengan menceritakan bagaimana Airbnb.com berdiri. Airbnb adalah situs dimana orang-orang yang memiliki ruang kosong tak terpakai memasarkan atau menawarkan ruangannya kepada orang lain yang membutuhkan tempat menginap dengan biaya yang jauh lebih murah dari hotel dan lebih bersahabat.
Airbnb sendiri didirikan oleh Joe Gebbia & Brian Chesky, sahabat karib dari Rhode Island School of Design yang pada suatu waktu hendak menghadiri annual industrial design conference si San Fransisco. Begitu terkenalnya acara ini hingga pengunjung rela mereservasi tempat menginap dari jauh hari sebelumnya. Kedua sahabat ini sudah kehabisan tempat inap & kalaupun ada sangat mahal. Di satu sisi, apartemen merekapun biayanya sangat mahal. Dari sinilah timbul ide mereka untuk menyewakan ruang kosong yang ada di apartemen mereka yang tak terpakai. Dari sewa ini mereka bisa mendapatkan $1,000 hanya dalam 1 minggu.
Dari ide ini berkembanglah ke ide membuat web, maka mereka meminta teman mereka Nathan Blecharczyk untuk membuatkan web bagi mereka, dan hadirlah Airbnb.com.
Dalam beberapa tahun terakhir memang sudah banyak gerakan-gerakan sejenis Airbnb, misalnya seperti Zipsters, yaitu perkumpulan orang-orang yang berbagi kendaraan atau tumpangan dengan rekan lainnya, atau bertukar buku, dvd dan mainan seperti Swaptree & OurSwaps atau memberikan barang2 yang sudah tidak diperlukan seperti di Freecycle & ReUseIt.
dalam buku ini diketengahkan mengenai Collaborative Consumption yaitu penggunaan barang atau jasa secara bersama atau berbagi. Dalam buku ini juga terlihat adanya pergeseran, dimana sebelumnya orang2 lebih senang dengan privasinya atau dari sistem jual-beli beralih kembali ke era di mana saling barter atau saling konsumsi. Orang-orang menyadari bahwa terkadang pola konsumtif cenderung boros. Terkadang secara impulsif kita membeli barang2 yang hanya akan digunakan kurang dari 3 kali dalam setahun, namun barang tersebut memakan tempat yang banyak di rumah kita atau memerlukan biaya perawatan yang tidak perlu. Padahal sebetulnya bila diberikan atau dipergunakan oleh orang lain yang memerlukan akan lebih bermanfaat dan berdayaguna bahkan bisa memutar perekonomian setidak untuk individunya atau untuk kelompok itu sendiri. Pernahkah kita berfikir bahwa alat panggang bbq yang kita beli hanya dipakai 2x setahun padahal harganya mahal & memakan tempat penyimpanan di rumah. Atau ruang kosong di rumah kita yang tidak terpakai bisa dijadikan tempat inap buat wisatawan?
Dalam buku ini contoh2 Collaborative Consumption dibagi dalam 3 sistem yaitu:
1. Product Service System: contoh: twitter, facebook, digg, linkedin, Zipcar untuk berbagi kendaraan atau tumpangan
2. Redistribution Market: contoh: eBay, AuctionWeb, Swapstyle (barter baju), SwapDVD (barter dvd), SplitGames (barter games), Amazon
3. Collaborative Lifestyles
Ada 4 prinsip dasar yang menyebabkab Collaborative Consumption berhasil menurut buku ini, yaitu:
1. Critical Mass: dimana ada kebutuhan yang luas untuk sesuatu hal, baik barang maupun jasa
2. Idling Capacity: dimana ada kapasitas yang tidak terpakai
3. Beliefe in the commons: adanya persamaan kebutuhan
4. Trust between strangers: adanya kepercayaan atas orang asing, karena dengan Collaborative Consumption konsekuensinya kita akan berhadapan dengan orang2 asing yang memiliki 3 prinsip dasar di atas.
Yang menarik lainnya dari buku ini adalah menegaskan bahwa saat ini zaman sudah bergeser dari sebelumnya “Generation Me” menuju ke “Generation We”, yaitu generasi dimana saling berbagi (sharing). Dimulai dengan google, wikipedia, blog, youtube, myspace dan yang paling fenomenal adalah facebook dan twitter.
Contoh lain di buku ini adalah BIXI, yaitu persewaan sepeda di Montreal Canada yang menjadi percontohan untuk penggunaan sepeda hampir di seluruh dunia. Dimana sepeda disewakan bagi siapa saja dan tersedia di hampir seluruh penjuru kota, membuat kita tidak perlu membeli sepeda, lebih sehat dan cinta lingkungan.

Advertisements