Konsep dari Shared Value adalah konsep dimana ekonomi dan lingkungan sosial bersinergi. Itu kesimpulan saya dari konsep ini. Menurut konsep ini, setiap usaha yang dijalankan seharusnya tidak hanya melihat kepada profit semata tanpa memikirkan apakah di tempat usaha ini dijalankan dia bisa berdaya guna, atau bahkan dari sisi supply-chain nya apakah sudah benar-benar melibatkan pemberdayaan masyarakat sehingga ekonomi madani atau civil society economic sudah berjalan?

Di dalam artikelnya para penulis yaitu Michael E. Porter & Mark R. Kramer juga memberikan contoh-contoh dari telah berjalannya konsep Shared Value ini, diantaranya sebagai berikut:
1. Johnson & Johnson memiliki Shared Value tentang menjaga kesehatan karyawannya. Program ini telah berjalan dengan baik di sana, dengan membantu karyawannya berhenti merokok, & menjalankan program-program kesehatan lainnya, JnJ berhasil menghemat pengeluaran untuk kesehatan karyawan sebanyak $250 juta dari tahun 2002-2008. Selain itu karyawan menjadi lebih sehat & produktif.

2. Dengan Shared Value cinta lingkungan, Coca-Cola telah mengurangi penggunaan air sebanyak 9% dimulai dari tahun 2004 & hampir setengah dari tujuannya untuk mereduksi penggunaan air hingga 20% di tahun 2012.
Dow Chemical berusaha mengurangi konsumsi air segar hingga 1 milyar galon di tempat produksinya, yang mana jumlah air tersebut dapat digunakan oleh hampir 40 ribu orang di A.S. selama 1 tahun – serta terjadi penghematan sebesar $4 juta.

3. Nestle, dengan Nespresso-nya, telah merubah pola pengadaan bahan bakunya. Bekerjasama dengan petani kopi di daerah-daerah penghasil kopi yang miskin, seperti di Afrika & Amerika Latin, Nestle bekerjasama secara intensif dengan petani kopi, memberikan pelatihan, pinjaman uang, pupuk, pengadaan & pergudangan untuk menyelamatkan panen kopi. Nestle juga membangun fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan dari para petani tersebut. Dengan kerjasama pengadaan seperti ini, pertumbuhan Nespresso mencapai 30% sejak tahun 2000.

4. Wal-Mart membeli bahan makanan yang dijualnya dari para petani dan peternak di dekat lokasi gudangnya. Wal-Mart sengaja mencari lokasi gudang yang dekat dengan bahan-bahan yang dibutuhkannya agar bisa menghemat biaya pengangkutan.

Bagaimana Shared Value Tercipta?

Menurut penulis, ada 3 hal yang dapat menciptakan Shared Value, yaitu:

1. Reconceiving Products & Markets.

Maksud dari reconceiving products & markets ini adalah apakah produk kita benar-benar diperlukan oleh pasar dan apakah produk kita tersebut benar-benar bernilai untuk pasar yang kita tuju, atau apakah produk kita ini bermanfaat?

2. Redefining Productivity in the Value Chain

Apakah usaha yang kita jalankan benar-benar bermanfaat untuk produktivitas dari value chain perusahaan? Karena value chain perusahaan pasti dipengaruhi baik langsung maupun tidak langsung oleh lingkungannya, misalnya: isu sosial, lingkungan, kesehatan karyawan dan lain-lain. Seharusnya terdapat kesamaan tujuan antara produktifitas value chain perusahaan dan perkembangan lingkungan sekitarnya. Sinergi akan terjadi manakala perusahaan melakukan pendekatan sosial dari perspektif shared value & menciptakan cara-cara baru dalam menjalankan usahanya untuk mengakomodir isu-isu sosial tersebut.

3. Enabling Local Cluster Development

Produktivitas & inovasi dari suatu perusahaan bergantung juga kepada tempat dimana perusahaan tersebut berada, suppliernya, penyedia jasa, dan lokasi infrastruktur logistiknya. Keadaan sosial-ekonomi warga sekitar akan sangat berpengaruh terhadap usaha perusahaan. Apabila keadaan sosial-ekonomi warga sekitar baik maka dapat berpengaruh positif terhadap produktifitas perusahaan juga.

CSV lebih baik dari CSR

Menurut penulis konsep Corporate Shared Value (CSV) lebih baik dari Corporate Social Responsibility (CSR). Berikut perbandingan di antara keduanya:

1. Value
CSR: berbuat baik
CSV: keuntungan sosial-ekonomi berbanding penghematan

2. Konsep
CSR: citizenship, philanthropy, keberlangsungan
CSV: penciptaan value/value creation secara bersama antara perusahaan & komunitas

3. Sifat
CSR: kebijakan atau respon atas tekanan luar
CSV: terintegrasi dengan daya saing usaha

4. Hasil
CSR: terpisah dari pencapaian keuntungan
CSV: terintegrasi dengan pencapaian keuntungan

5. Agenda
CSR: ditentukan oleh laporan dari pihak luar atau keinginan pribadi
CSV: dibuat dan ditentukan secara spesifik dari dalam organisasi

6. Dampak
CSR: dampak terbatas hanya pada anggaran CSR & peninggalan nama perusahaan
CSV: terintegrasi dengan keseluruhan anggaran perusahaan

Konsep ini menurut saya adalah pengembangan lebih lanjut dari konsep CSR. Konsep CSR yang ada memang dirasakan kurang memberi nilai yang selaras dengan tujuan usaha karena dirasa hanya sebagai kewajiban dan merupakan biaya, selain itu juga tidak memberdayakan lingkungan atau komunitas secara tepat. Alih-alih mendukung produktivitas usaha malah merecoki atau hanya ingin mendapatkan keutungan pribadi tanpa adanya sinergi yang berarti antara pengusaha dan komunitasnya.

Dalam pemikiran saya sebelum membaca artikel ini adalah, seharusnya CSR bukan hanya dilakukan terhadap pihak eksternal tapi juga bisa berjalan di internal perusahaan. Jika kita lihat contoh-contoh di atas, konsep yang berjalan di Johnson & Johnson adalah layaknya konsep CSR internal. Setelah membaca artikel ini ternyata sejalan dengan apa yang saya pikirkan dan ternyata namanya adalah CSV dan bukan CSR lagi.

Jika CSV sudah berjalan baik terhadap internal maupun eksternal, maka sinergi yang kuat tersebut justru akan memperkuat daya saing usaha, layaknya konsep sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi kebanyakan orang, maka dengan konsep CSV, sebaik-baik perusahaan adalah perusahaan yang berguna bagi lingkaran value chain-nya, termasuk internal dan eksternalnya.

Advertisements