Sejujurnya buku ini agak sedikit sulit dicerna pada awalnya, namun setelah saya baca bagian pembukaannya, lumayan tercerahkan. Di bagian awal buku para penulis mengatakan bahwa buku ini pernah ditolak oleh penerbit karena tidak memiliki “Unifying Theme”, alias buku ini hanya berisi potongan-potongan cerita atau berita layaknya di koran atau majalah.

Yang menarik buat saya adalah, bagaimana para penulis ini mengatakan bahwa mereka terpaksa “berbohong” mengatakan bahwa buku ini memiliki “Unifying Theme” tadi dan ada benang merah yang dapat ditarik dari semua cerita-cerita yang disampaikan, dan pada akhirnya ada juga penerbit yang “tertipu” dan menerbitkan buku mereka.

Setelah saya baca 2x, saya bisa simpulkan bahwa buku ini membahas tentang kejadian-kejadian yang diluar pantauan dihubungkan dengan prinsip2 ekonomi yang ada. Bahwa ternyata hal-hal yang bisa dikatakan “nyeleneh” atau “ekstrim” pun tidak luput dari prinsip2 ekonomi yang ada.

Di bagian awal buku para penulis menyatakan bahwa pada dasarnya setiap manusia selalu tertarik pada insentif, bagaimanapun bentuknya, dan bahkan tidak harus berbentuk. Namun yang selalu dilupakan adalah, konsekuensi-konsekuensi yang bakal terjadi setelah insentif didapatkan, tak pernah disengaja namun pengaruh atau dampaknya bisa sedemikian besar.

Buku juga dibuka dengan cerita mengenai bagaiamana perempuan-perempuan di India dulu selalu inferior dari kaum lelaki. Namun setelah hadirnya televisi di India, maka kaum perempuan menjadi lebih emansipatif. Satu hal yang menarik mengenai cerita di India ini adalah, bahwa WHO pernah melakukan kampanye kesehatan reproduksi dan AIDS di India. Dalam kampanye ini WHO membagikan kondom gratis kepada para pria India. Namun ternyata program gagal, karena tidak ada penurunan jumlah penderita penyakit kelamin di India. Setelah dilacak, ternyata penyebabnya adalah kondom yang diberikan terlalu besar untuk ukuran penis orang India. Akhirnya ukurannya disesuaikan dan program sedikit demi sedikit mulai berhasil. Dari cerita ini menunjukkan bahwa, supply harus mengikuti demand juga, termasuk adanya riset mengenai apa yang benar-benar dibutuhkan, walau untuk kegiatan sosial sekalipun.

Buku sendiri terdiri dari 5 bab sbb:

1. How is A Street Prostitute Like A Department-Store Santa?

Judulnya menyimpulkan isi dari bab ini, dimana para penulis mengatakan bahwa layaknya Dept. Store Santa yang sangat dinanti2 dan disenangi secara musiman, maka prostitusi juga “seasonal”, yaitu akan memiliki penghasilan banyak di hari-hari tertentu saja.

Secara kontroversial para penulis menyatakan bahwa profesi yang didominasi oleh perempuan adalah prostitusi, karena secara data, walaupun emansipasi telah sangat diakui, tetap saja perempuan inferior, baik dari segi jabatan maupun penghasilan.

Prostitusi layaknya pasar lain, sangat rentan akan kompetisi, dan kompetitor terhebat dari prostitusi adalah sex bebas & sex sebelum nikah.

Data-data menarik lain juga ditampilkan dalam bab ini, seperti kenapa oral sex jaman dulu lebih mahal dari saat ini, kapan jam tersibuk & terproduktif dari pelacur serta soal diskon yang juga dapat diterapkan dalam prostitusi. Hal paling menarik adalah, prinsip “cut the middlemen” juga terjadi dalam prostitusi, dimana pelanggan akan langsung bertransaksi dengan pelacur dibanding melalui mucikari.

Sebuah pertanyaan menarik dalam bab ini adalah, jika selama ini penegak hukum memberikan hukuman berat pada bandar narkoba sebagai supplier, lalu kenapa tidak juga memberikan hukuman berat terhadap konsumen dari sisi demand?

2. Why Should Suicide Bombers Buy Life Insurance?

Terorisme, menurut para penulis sangat efektif, karena dampaknya, terutama biaya, bisa mengena kepada siapapun, secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya, termasuk opportunity cost untuk mengantri karena pemeriksaan badan, juga biaya untuk mengaakan alat2 pelacak bom.

Terorisme adalah satu2nya kegiatan yang walaupun gagal tetap berhasil. Kegagalan bisa berarti, meledak ataupun tidak meledaknya bom.

Teroris rata-rata adalah pria berumur 26-35 tahun, biasanya mereka mempunyai hp, adalah seorang pelajar dan lebih memilih sewa rumah daripada membelinya, tidak memiliki status pekerjaan tetap, status pernikahan, dan tinggal malah jauh dari Mesjid. Teroris juga jarang sekali memiliki akun bank, menarik uang di ATM pada jumat sore dan membeli asuransi jiwa.

3. Unbelievable Stories About Apathy & Altruism

Dalam bab ini penulis mempertanyakan mengenai altruisme, apakah benar altruisme itu murni. Pada kenyataannya, sebagaimana dalam hukum ekonomi disebut impure altruism atau warm-glow altruisme, maka menurut para penulis, orang membantu karena membantu membuat kita merasa labih baik/merasa baik/setidaknya merasa tidak terlalu jelek.

4. The Fix is in – And It’s Cheap & Simple

Hal menarik dari bab ini adalah, menantang kita untuk berpikir, bahwa ternyata memperbaiki itu haganya murah dan sederhana. Orang terkadang terpaku pada harga mahal atau sesuatu yang harus njelimet.

Terdapat juga data mengejutkan bahwa dibanding polusi kendaraan bermotor, ternyata kotoran sapi malah mengandung banyak methane yang berkontribusi terhadap global warming. Data lain adalah bahwa kangguru malah lebih ramah lingkungan kotorannya.

5. Why Do Al Gore & Mount Pinatubo Have in Common?

Bab ini agak sedikit kurang jelas buat saya, cuman yang masih nempel adalah soal “Externalities”, yaitu kondisi di luar dari proses yang turut mempengaruhi. Sebagai contoh, apakah kita pernah memikirkan, ketika kita membuat barbeque, asapnya turut berkontribusi terhadap global warning bahkan terhadap banjir yg sering terjadi di Bangladesh misalnya.

Kesimpulan akhir…buku ini mumet tapi menarik terutama data-datanya.

Rating (1 ancur, 5: top):

Isi: 3.5

Desain cover: 3

Ukuran buku: 4.5

Reader friendly: 3

Advertisements