Selamet membantingkan badannya ke tempat tidur. Seragam SMA masih dikenakannya. Dengan muka lelah dan penat siang itu, rebahan di kasur menjadi rekreasi yang tak terkira baginya. Hari yang kurang menyenangkan buatnya. Rasanya seperti jadi orang yang paling sial seantero jagad. Berlebihan pasti, tapi memang begitulah Selamet, kesusahan kecil bila waktunya pas dan mood sedang di titik rendah, bagai api disiram bensin, membakar kemana-mana.
Mata Selamet menerawang memandangi langit-langit kamarnya, rasanya sulit dia bayangkan tadi, kalau gadis yang dia incar ternyata merespon dirinya seperti itu. Kenapa gadis ini tidak memiliki empati sedikitpun padanya. Kenapa dia tidak menghargai usahanya walau sedikitpun. Kenapa itu harus dilakukannya di depan dia dan orang-orang lain yang tidak perlu tahu soal ini. Walau Selamet sadar, di satu sisi, diapun memiliki kecerobohan, tepatnya kebodohan, kenapa harus menyatakan perasaan di depan khalayak. Ini kebodohan dan pembodohan. Pembodohan karena terlalu banyak membaca novel. Pembodohan karena terlalu banyak mendengarkan lagu cinta. Pembodohan karena terlalu sering menonton film komedi romantis.
Dia ingat betul kejadian bodoh tadi, menyanyikan lagu cinta buatannya sendiri yang disiarkan radio sekolah di jam istirahat. Respon tidak sesuai ekspektasi karena ternyata sang gadis bukan tipe seperti itu. Apresiasi dari khalayak pun kurang layak. Selamet menjadi tidak selamet dengan keadaan itu. Malang memang.
Selamet bangun dari kekosongannya. Dilihatnya gitar kesayangannya bagai tersenyum dan seakan mengerti Selamet butuh pelukan hangat. Diambilnya gitar yang menggantung di dinding tersebut. Dipeluknya sesaat. Distelnya beberapa senar hingga sesuai dengan suaranya. Tak lama, beberapa nada dimainkan Selamet secara acak namun lama-lama menjadi harmonis. Setiap kepedihan yang dia rasakan berubah perlahan menjadi nada dan harmoni lagu yang diciptakannya. Hari yang kelabu untuk Selamet. Sebuah lagupun tercipta sudah.

Advertisements