Ara hanya terpaku di kamar villa mewah itu. Apalagi yang kurang, tanyanya dalam hati. Tempat sudah bagus, di sebuah villa mewah di Bali. Kamarnya begitu luas, bersih dan terang. Pemandangan kamar langsung ke pantai dan laut, dengan pasir putih dan lautan biru yang luas. Gitar kesayangan juga sudah siap sedia dipetik. Cuaca sedang baik-baiknya, langit biru cerah tanpa terlalu banyak awan. Angin semilir kadang bertiup sedikit kencang.
Sebatang rokok sudah terselip di bibir Ara. Hisapan demi hisapan silih berganti dengan mengepulnya asal yang keluar dari mulutnya. Apa yang salah? Semua sudah seperti biasanya. Tapi mengapa tak ada satupun inspirasi lagu bisa keluar dari otak dan hatinya. Sudah hari ketiga dia menyepi di villa ini untuk mencari inspirasi, tapi yang dicari tak kunjung ditemukan. Mata yang menerawang jauh tak mampu memberikan jawaban.
Sudah hampir dua tahun dari album terakhir, belum ada lagi karya yang bisa diciptakan Ara. Padahal sebelumnya, dalam setahun saja bisa sangat produktif dan lagu-lagunya selalu menjadi hits. Tapi kini, sungguh di luar kebiasaan sebelumnya. Sudah lebih dari beberapa tempat disinggahi Ara hanya untuk menyepi dan berkontemplasi mencari inspirasi lagu seperti biasanya, tapi selalu gagal. Hanya lagu-lagu biasa yang membosankan yang dihasilkan dan tidak pernah dianggap komersial oleh industri. Bahkan untuk skala musik indie atau idealis-pun masih kurang bagus.
Di tengah keputusasaan, Ara teringat Val, terlintas baginya untuk berbincang dengan kekasihnya itu sebentar, siapa tahu inspirasi akan datang.
“Halo Val.. How are you dear?”
“Hai sweetheart, how are you doing? Have you got it yet?”
“Nope.. Seems like I still can’t make it babe”
“Ohh.. Come on.. Don’t lose hope.. Yes you can.. It’s just a matter of time”
“But it’s been almost two years and I still can’t make it. I feel dumb”
“Hey.. Remember.. It’s ok sometimes kalau berhenti dulu. Mungkin memang kamu perlu istirahat dan berlibur lebih lama sedikit”
“Yahh.. Mungkin juga yah”
“Ayo semangat… Give me your simple laughter dear”
“Ha ha ha, aku bisa bayangin muka manja kamu kalau lagi gitu”
“Ohhh I love it.. Ayo mulai lagi.. Aku mau ketemu calon supplier sebentar yah.. Tuh dia udah datang”
“Ohh.. Can’t it wait awhile.. Masih butuh semangat ini”
“Ehh manja deh.. Can not dear, gak enak udah janji.. Ok yah.. Semangat.. Where’s my brilliant Ara?”
“Ya udah deh, sukses ya babe, call you later”
“Ok, bye sweetie”
Ara menghela nafas dalam, cakrawala tak bersahabat buatnya kali ini. Kepulan asap rokok kembali menjadi sahbat yang setia.

Advertisements