Pagi itu adalah Senin pertama semua sekolah memasuki tahun ajaran baru. Termasuk juga bagi para pelajar yang baru saja naik kelas, baik dari kelas satu naik ke kelas dua, maupun dari kelas dua naik ke kelas tiga. Bagi anak baru akan banyak program orientasi termasuk peloncoan yang akan dilakukan seniornya terhadap mereka. Bagi anak-anak yang baru naik kelas, mereka akan mendapat teman-teman baru dari kelas-kelas lain yang sudah maupun belum pernah mereka kenal sebelumnya.

Tak terkecuali buat Dadang, hari itu juga adalah hari pertamanya di kelas 2. Walaupun di SMA tersebut prestasi Dadang termasuk rata-rata, tapi sebenarnya Dadang adalah anak yang cerdas dan kreatif. Tidak seperti biasanya, hari itu Dadang tiba di kelas barunya sangat pagi. Mitos posisi menentukan prestasi sangat dimaknai olehnya. Posisi yang bagus dan strategis buatnya bukan di depan, itu untuk kutu buku, bukan juga terlalu belakang, karena itu untuk preman sekolah. Maka pagi itu dia dapatkan tempat yang bagus untuknya, yaitu kursi ke empat dari belakang dari enam jajaran kursi. Di kelas umumnya ada 48 siswa. Beberapa teman Dadang, termasuk teman baiknya Ari, juga masuk di kelas yang sama. Sudah dapat diduga, kursi sebelah Dadang sudah di pesan untuk Ary.

Waktu sudah mendekati pukul tujuh pagi. Kelas sudah hampir penuh saat itu. Dadang memperhatikan ada beberapa teman sekelasnya yang terkenal sebagai preman sekolah atau tukang jail sekolah, dan seperti umunya, kursi belakang sudah dipenuhi oleh mereka. Namun beberapa menit sebelum jam sekolah dimulai, ada pemandangan luar biasa menakjubkan. Ternyata ada satu lagi preman sekolah yang baru masuk dan rupanya kehabisan tempat duduk di belakang. Yang tersisa adalah kursi jajaran kedua dari depan di sektor kiri kelas. Anak ini terlihat beringas, dengan badan tegap dan cukup kekas, dia terlihat seperti ahli beladiri. Rambutnya cepak layaknya tentara, namun yang paling menarik perhatian adalah, perban yang menempel di kepala sebelah kirinya. Nampak seperti sebuah intimidasi dan pernyataan diri kepada seisi kelas yang lain, bahwa “gue ini preman, nih luka bekas kelahi, mau macem-macem? Pikir dulu deh!” Cukup menyeramkan. Beberapa preman di belakang langsung berkerumun menyambutnya, dengan salam khas dan canda tawa mereka layaknya persaudaraan. Seisi kelas yang lain tampak terkesima sesaat, dinamika kelas akan tampak menarik rupanya.

Dadang termasuk orang yang terkesima dengan keadaan ini. Tapi ada yang aneh hari itu. Dadang hanya merasa sebal dengan anak yang baru masuk tadi. Menurutnya anak ini sok dan perban itu pasti hanya untuk imej semata, tidak terjadi apa-apa di balik perban itu selain hanya untuk “personal statement” saja. Entah keberanian dari mana, tiba-tiba Dadang ingin menjajal orang ini. Impulsif sekali, tiba-tiba Dadang mengambil patahan pensil dari laci mejanya dan dengan spontan melemparkannya ke arah anak tersebut dan tepat mengenai kepalanya yang tanpa perban. Seketika kelas hening, semua mata tertuju kepada Dadang, termasuk anak baru tadi berikut teman-temannya yang lain.

Dengan langkah tegap dan mantap anak itu mendekati Dadang. Dadang seketika tersadar, apa yang sudah dilakukannya tadi? Bodoh, serunya dalam hati. Dengan tatapan mata yang tajam, anak tadi berhasil mendekat hanya berjarak 1 lengan saja dari Dadang.

“Lu mau jajal gw yah??!!”
“Ohh.. Enggak kok, tadi.. tadi gw gak sengaja kelempar”
“Jangan boong lu, lu pikir gue gak liat tadi? Lu sengaja kan lempar pensil tadi ke kepala gue?!”
“Enggak.. beneran enggak.. gue gak sengaja beneran”
Tatapan mata tajam kembali menghunjam Dadang untuk beberapa saat.
“Ok.. Gw terima alesan lu. Tapi kalau lu beneran mau jajal gue. Pulang sekolah gue tunggu. Lu sebutin aja mau dimana!”
“Eh.. Enggak kok.. Beneran gue gak sengaja.. Sorry banget.. Beneran gue gak sengaja”
“Ok, gue terima sorry lu. Tapi gue tetep nunggu kalau lu mau jajal gue. Oh ya, nama gue Bram”
“Eh serius gue gak sengaja, beneran gue minta maaf. Oh.. Ya, nama gue Dadang”
Dan ketegangan pun berakhir dengan berbunyinya bel masuk sekolah dan perkenalan singkat mereka.

Advertisements