Tadi siang pas lunch di kantin kantor ada hal menarik yang gw dapet, yaitu soal home schooling. Untuk apa itu home schooling bisa di googling atau lihat di wikipedia.

Yang menarik adalah, ternyata home schooling bukan panggil guru ke rumah, tapi orang tua menjadi guru untuk anaknya dengan waktu minimal 2 jam sehari untuk belajar-mengajar.

Temen gw itu sudah praktikin & so far so good menurut dia. Bisa lebih dekat dengan anak & punya quality time dengan dia. Selain itu belajar-mengajar bisa disesuaikan dengan keinginan ortu. Yang menjadi tantangan ketika anak bosan atau bagaimana ortu punya konsensus dalam berbagai hal.

Home schooling belum dapat pengakuan dari diknas, jadi hanya dianggap kursus biasa. Untuk bisa disamakan statusnya, maka harus ikut paket A-C untuk nanti bisa dipakai pas masuk perguruan tinggi.

Tapi ada juga temen gw yang jadi devil’s advocate, katanya home schooling secara psikologis bisa jadi kurang bagus buat anak, karena mereka butuh teman dekat atau bahkan sekumpulan teman teman.

Di balik pros-cons nya, konsep ini menarik menurut gw. Apalagi dengan kecanggihan teknologi saat ini, sekolah harusnya bisa dimana saja dengan media apa saja. Harusnya pemerintah tetap bisa mengakomodir ini. Toh kelulusan hanya masalah secarik kertas berstempel. Mestinya dibuktikan saja dengan mereka lulus ujian, toh sama saja. Tapi seperti kata teman tadi, larinya jadi ke masalah politik. Agak ribet memang.

Advertisements