Dadang tak habis pikir, kenapa selalu berakhir seperti ini, suram dan menyakitkan. Padahal untuk ukuran laki-laki, Dadang tidaklah jelek, harusnya dengan sedikit polesan saja sudah cukup enak dilihat oleh wanita. Namun Dadang, hanya kelas menengah, tepatnya akar rumput, karena tidak punya cukup kapital untuk bisa mempertampan penampilannya. Uang di dompet hanya cukup untuk ongkos dan makan siang serta ngemil di sekolah. Untuk keperluan lain, apalagi menjadi metroseksual, jauh panggang dari api sepertinya.

Setelah kesekian kalinya, harapan Dadang tetap pupus. Bunga-bunga sudah berguguran di hati Dadang berganti sayatan-sayatan pedih penuh kegetiran. Tak ada air mata yang mengalir ke pipi, tertahan oleh ego dan hanya menggenang di sudut-sudut mata. Serpihan-serpihan hati berganti nada-nada dalam lagu yang diciptakan Dadang. Semua perasaan tumpah ruah dalam melodi dan lirik. Tak ada lagi yang tersisa selain luka hati, air mata pun mulai mengalir ketika Dadang mulai menyanyikan lagu dari sudut ruang tidurnya senja itu. Satu lagi senja yang biru, setidaknya untuk Dadang begitu.

 

Advertisements