Tadi siang kantor gw ngundang Prof. Karlina Supelli, mantan astronom Indonesia yang sekarang menjadi filsuf di STF Driyakara. Sudah ada 3 filsuf diundang ke kantor termasuk beliau, tp gw rasa beliau ini yang paling cerdas & tepat sasaran dalam menjawab pertanyaan gw (sok betul gw ini :p).
Bahasan menjadi tepat, karena ngomongin soal system. Yang paling nempel di gw adalah ketika dia bilang, ketika kita menciduk air di sungai untuk kita minum, maka ada keterkaitan luas kejadian tersebut dengan alam semesta yang luas. Gw maknai itu seperti, aksi apapun yang kita lakukan, maka akan seperti domino efeknya, akan berdampak di bagian lain dari mata rantai aksi kita tadi tersebut.
Di kantor gw selama ini ada paham soal system thinking, tapi gw rasa terlalu sempit bahkan hanya melihat per bagian saja atau hanya proses per proses. Yang selama ini gw masih inget, mungkin gw juga salah sih, bahwa contoh dr sistem ini adalah seperti pipa air, terdiri dari leher, badan & mulut pipa. Kalau salah 1 dari 3 itu ukurannya lebih kecil saja, maka akan mengganggu dan proses tidak optimal, akhirnya output juga tidak optimal.
Tapi kesannya jadi cuman per proses saja, padahal organisasi terdiri dari beragam proses yang tali-temali saling kait mengait sehingga menjadi output besar dari organisasi tersebut. Bahkan harusnya tidak hanya melulu soal proses dengan output barang/jasa, tapi juga sumber dayanya itu sendiri.
Saya cuman ingat pelajaran pak Derry Habir di IPMI untuk subjek Organization Behavior, pak Derry hanya menawarkan 1 framework saja sebagai system, dimana hubungan sebab-akibat akan ada di dalamnya. Intinya, satu aksi dari satu orang/bagian akan mempengaruhi orang/bagian lainnya, baik yang berhubungan maupun tidak. Dalam framework ini berbagai aspek bahkan dipertimbangkan, mulai dari hubungan antar kolega, departmen, divisi maupun skala besar organisasi. Menurut gw framework ini lebih kena dan bisa sangat flexibel digunakan.
Kemarin gw jadi kepikiran, selama ini kita hanya tahu sistem itu lebih per proses saja. Jadi kalaupun kita diminta untuk membiasakan berpikir sistem, ya hanya per prosesnya, per projeknya dan kurang holistik. Padahal kalau berpikir sistem seperti yang dijabarkan Prof. Karlina, bahkan harusnya dikaitkan ke visi-misi organisasi, berarti lebih luas dari hanya per proses, work center atau projek. Kalau dikaitkan lagi dengan apa yang dijabarkan Hamel dalam bukunya What Matters Now, pemimpin juga harus menempatkan kepentingan organisasi dari kepentingan pribadi. Jadi fungsi kait mengaitnya antara berpikir sistem itu dimulai dari visi-misi, kepentingan organisasi & kemudian kemampuan proses antar fungsi yang bekerjasama.
Tapi ada satu hal lagi, bahwa visi-misi dan kepentingan organisasi mungkin lebih mudah dikenali, walau belum tentu juga, tapi kemampuan proses masing-masing komponen organisasi bisa jadi belum saling dikenal, untuk ini mungkin baiknya memang saling mengenal & dikenalkan, alias saling membangun awareness-nya masing-masing.
Lalu bagaimana dengan SIPOK? Ya menurut gw SIPOK juga harusnya tidak hanya dilihat per proses atau work center atau projek saja, baiknya juga digandeng dengan visi-misi & kepentingan organisasi serta saling mengenal kemampuan antar proses.
Well.. Just a thought :p

Advertisements