Judul Buku: Leaders Make the Future: ten new leadership skills for an uncertain world
Penulis: Bob Johansen
Penerbit: Berrett-Koehler Publisher, Inc.
Tahun: 2009

Dalam pendahuluannya penulis menyebutkan bahwa buku ini adalah hasil penelitiannya bersama lembaga yang dikepalainya yaitu Institute. For the Future (IFTF).
Dalam penilitian tersebut, pemimpin masa depan akan menghjadapi VUCA yang lebih buruk, VUCA adalah Volatility, Uncertainty, Complexity & Ambiguity. Untuk menghadapi VUCA negatif diperlukan VUCA yang positif yaitu Vision, Understanding, Clarity & Agility.

10 kemampuan baru yang harus dimiliki pemimpin di masa depan adalah:

1. Maker Instinct
Pemimpin harus bisa melakukan apa yang dikatakannya dan menularkannya kepada seluruh tim. Ini adalah kemampuan untuk mengeluarkan seluruh kemampuan dalam diri untuk membangun & menumbuhkan timnya dan di sisi lain ikut membuat timnya menjadi bagian dari hal tersebut.
Penulis menyamakan Maker Instinct ini dengan hobi, namun bukan sekedar hobi, tapi hobi yang bisa memberikan sesuatu atau memberi nilai lebih atau added value. Hobi yang dimulai & diselesaikan hingga menghasilkan sesuatu, itulah hobi seorang pemimpin.
Maker Instinct adalah bagian dari hobi & pekerjaan secara bersamaan. Pemimpin dengan Maker Instinct memiliki kemampuan untuk memakai pendekatan kepemimpinannya dengan komitmen suatu tugas & energi dari hobi. Pemimpin ini akan menularkannya kepada tim. Pemimpin tidak harus tahu semua jawabannya, tapi mereka akan mengusahakannya.

2. Clarity / Kejelasan
Clarity dalam kepemimpinan adalah kemampuan untuk:
– melihat kekacauan & kontradiksi
– melihat masa depan yang belum dilihat orang lain
– menemukan arah yang memungkinkan untuk dijalani
– melihat harapan pada sebuah masalah
Clarity memerlukan disiplin & karakter yang kuat, pengetahuan diri yang baik, ikatan yang baik dengan pihak lainnya sehingga bisa menginspirasi pengikutnya serta memerlukan fleksibilitas untuk dapat mencapai tujuan jangka panjangnya.
Pemimpin harus menghindari steretyping agar clarity tidak terhalang. Terlalu mudah membuat stereotype untuk orang atau kelompok orang tertentu akan menghasilkan kesalahpahaman.

3. Dilemma Flipping / Pembalik Dilema
Dilema di masa depan akan memiliki karakteristik berikut:
– tidak mudah diselesaikan
– berulang
– kompleks & berantakan
– mengancam
– membingungkan
– penuh teka-teki
– peluang
Pemimpin harus bisa mengatasi dan membalik dilema-dilema di atas menjadi sebuah peluang.
Menghadapi dilema membutuhkan kemampuan untuk merasakan, memetakan dan memetakan kembali situasinya (frame & reframing). Reframing layaknya mundur sejenak, memeriksa asumsi, mempertimbangkan jalan lain untulk melihat kembali apa yang sedang terjadi, bahkan terkadang membutuhkan untuk membuat kembali situasi tersebut (remake the situation). Remaking adalah membyangkan kembali dan membuatnya lagi.
Ada 3 tahap untuk melatih kemampuan dilemma flipping, yaitu:
– mengidentifikasi dilema.
– membenamkan diri dalam dilema tersebut.
– mrerubah dilema menjadi peluang positif.

4. Kemampuan Belajar dari Awal / Immersive Learning Ability
Ini adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mempelajari hal-hal bari dari awal. Kemampuan ini membutuhkan perhatian aktif, kemampuan untuk mendengar & menyaring informasi, serta melihat pola sementara tetap objektif.
Ada beberapa cara untuk melatih kemampuan ini, yaitu dengan cara:
– simulasi
– permainan
– pelatihan dengan teknologi 3D
– bermain peran (role play)
– skenario
– mentoring, mentoring ulang atau pendampingan
– pengalaman ad hoc
– improvisasi teatrikal
– studi kasus

5. Bio-Empathy
Kemampuan melihat sesuatu dengan sudut pandang alaminya; untuk memahami, menghormati, dan belajar dari pola-pola alaminya.
Untuk mengembangkan bio-empathy, langkah pertama adalah dengan melakukan observasi & menghargai proses alami yang terjadi di sekitar kita.
Pemimpin harus bisa melihat sesuatu sebagai satu kesatuan sistem utuh & tidak hanya melihat per bagian saja.
Hubungan & prinsip yang digunakan di organisasi pun harus diungkapkan secara organik dan bukan layaknya bahasa mekanik atau pemograman mesin.

6. Depolarisasi yang Membangun
Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk bisa tenang ketika keadaan sedang tidak menentu atau dalam situasi konflik.
Pemimpin harus bisa melihat sisi lain dari suatu masalah. Untuk melatih hal ini bisa dilakukan dengan mentoring terbalik, maksudnya orang yang memiliki skill tertentu memberikan mentoring kepada orang lain yang tidak memiliki skill untuk itu.

7. Transparansi Senyap / Quiet Transparency
Pemimpin harus mampu menjadi otentik mengenai apa yang penting baginya tanpa harus terlihat seperti mempromosikan dirinya sendiri.
Transparansi senyap membutuhkan kerendahan hati, mampu menonjolkan diri tanpa terlihat seperti mempromosikan diri. Prinsipnya adalah, jika anda tidak perlu tahu sesuatu, maka saya tidak akan memberitahukannya. Informasi sedemikian terbuka dan luasnya saat ini, jadi orang akan lebih mudah mengakses informasi yang dia perlukan. Dalam hal ini pengertiannya orang akan lebih melihat apa yang anda lakukan sebagai pemimpin dibanding apa yang anda bicarakan.

8. Membuat Prototipe secara Cepat (Rapid Prototyping)
Ini adalah kemampuan pemimpin dalam berinovasi. Berhubungan dengan kemampuan Maker Instinct. Kemampuan ini membuat inovasi berjalan cepat karena proses trial-error terjadi, mottonya fail early, fail often & fail cheaply. Kemampuan ini membutuhkan kita untuk lebih banyak “mendengar” daripada berpikir.
Karakter pemimpin ini adalah:
– memiliki mental trial-error dengan tujuan menghasilkan sesuatu dengan cepat. Mereka tidak takut gagal untuk meraih kesuksesan
– menekankan pada pengalaman di lapangan daripada perencanaan yang terlalu matang
– memaksimalkan pembelajaran dengan menempatkan prioritas pada kecepatan ekstrim dalam belajar
Satu hal yang berbahaya dilakukan dengan kemampuan ini adalah dalam sektor finansial atau keuangan. Jadi untuk keuangan tetap harus berhati-hati.

9. Mengurus Organisasi secara Cerdas (Smart Mob Organizing)
Pemimpin haruslah cerdas mengirganisir organisasinya. Pemimpin harus mampu membuat koneksi dan kerjasama dengan pihak lainnya. Kemajuan teknologi dan social media menjadi penting di masa depan, sehingga pemimpin harus bisa memanfaatkannya sebaik mungkin.

10. Menciptakan Kebutuhan Bersama (Common Creating)
Pemimpin harus mampu untuk menciptakan, menjaga dan menumbuhkan aset-aset yang berguna untuk seluruh organisasi. Aset-aset ini adalah aset bersama yang digunakan oleh sebagian besar atau semua lini organisasi (shared assets).

Di bab akhir dari buku ini juga disampaikan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada pembaca untuk mengetahui apakah pembaca telah memiliki kemampuan sebagai pemimpin.

Advertisements