Banyak hal bisa bikin orang berubah. Bisa pelan, medium atau cepat bahkan super cepat. Pemicunya, bisa macam-macam, sadar gak sadar.
Banyak hal juga berubah di hidup gw, salah satunya, yang menurut gw cukup menakjubkan perubahannya, adalah.. Gw keranjingan berinvestasi.
Trigger utama, pastinya pengalaman hidup, merasakan hidup kekurangan & gimana orang tua berjuang menghidupi anak-anaknya.
Kedua adalah kondisi makro ekonomi, ketika gw menyaksikan bagaimana krisis ekonomi menimpa negeri ini, banyak orang kehilangan pekerjaan & tidak siap menghadapi hal itu. Tingkat pengangguran & kemiskinan meningkat saat itu. Banyak orang malah menyalahkan penguasa, pengusaha atau lingkungan atas kondisi mereka. Padahal setelah gw pikir, kita punya kuasa untuk lebih siap menghadapi hal semacam itu.
Ketiga, status profesional gw sebagai pegawai swasta, sangat tinggi fleksibilitas, gw gak akan pernah tahu kondisi kesehatan keuangan perusahaan seperti apa. Terus banyak hal bisa terjadi, termasuk pemecatan misalnya. Last but not least, gw gak akan punya dana pensiun kayak bokap yang pegawai negeri misalnya. Walau uang pensiun juga sebetulnya gak seberapa.
Keempat, gw orangnya konsumtif banget, bahkan impulsif kalau gw pengen beli sesuatu. Dulu, awal-awal kerja, gadget selalu gw ganti begitu ada yang baru keluar. Hang out di tempat yang lagi populer gak pernah absen. Akhirnya, sisa saldo tiap bulan paling gede cuman 50 ribu, seringnya cuman 10-20 ribu.
Galau soal ini gw alami di tahun 2004. Hingga suatu waktu, almarhum kakak ipar gw menyodorkan brosur penjualan kios di suatu pusat perbelanjaan yang akan dibangun di deket rumah waktu itu. Gw masih inget dia bilang begini: “Gi, nih coba lihat-lihat siapa tau minat. Saran akang sih, daripada uang Anggi habis buat main, mending beli kios disini. Terus Anggi kan belum keluarga, daripada beli rumah mending beli kios dulu”. Kata-kata itu jadi turning point gw ber-investasi hingga saat ini.
Setelah itu gw mikir, iya juga, tapi harga kiosnya lumayan, gimana cara gw bisa bayar cicilannya. Tuhan selalu kasih gw ilham, gw terus terang sampai sekarang gak pernah baca buku Robert Kiyosaki, tapi ajaibnya yang gw pikirin waktu itu hampir sejalan dengan apa yang ditulis Kiyosaki yang gw denger dari teman setelah itu. Akhirnya gw beli salah 1 kios sebagai investasi pertama gw waktu itu & berhasil lunas dalam 3 tahun. Cicilan yang secara prinsip harusnya gw bayar maksimal 30% dari gaji gw, waktu itu gw langgar, tapi waktu itu nyaris 60% gaji gw pakai buat bayar kios itu. Salah memang, tapi gw rasa waktu itu gw harus lakuin demi merubah sifat impulsif & konsumtif gw.
Setelah itu, gw jadi keranjingan berinvestasi. Selalu berpikir menginvestasikan uang gw berapapun hingga kini. Mungkin karena memang gw sudah dapat manfaat dari investasi itu, berupa aset aktif yang menghasilkan tiap bulan buat gw. Bahkan sekarang gw selalu punya prioritas dalam membelanjakan uang gw. Misal, gw seharusnya bisa beli rumah. cukup luas & bagus dengan alokasi 30% gaji gw, tapi gw pikir, gw belum perlu rumah kayak gitu saat ini, jadi gw bagi dua alokasinya, 15% gw beli apartment kecil & 15% gw coba beli aset lain lagi yang harus jadi aset aktif. Gadget sekarang gak akan gw ganti sebelum fungsinya gak sesuai atau ada fungsi yang gw perlu untuk investasi. Teman atau lingkungan gak akan mempan sekarang buat manas-manasin gw buat beli gadget baru, udah gak musim yang kayak gitu.
Investasi memang sangat menyenangkan. Cuman satu hal yang gw sesalin, kenapa gw gak melek investasi dari sebelum sebelumnya lagi :).. Well belum terlambat untuk menularkan ke anak-cucu gw nanti. Mereka harus melek investasi dari mereka belia :), amin.

Advertisements