Judul: Flying Without A Net – Turn Fear of Change into Fuel for Success
Penulis: Thomas J. DeLong
Penerbit: Harvard Business Review Press
2011

Bagian Pertama – Why We Fear Change

Buku ini ditujukan penulis kepada para profesional yang termasuk dalam “High-need-for-achievement” yang sering melakukan sabotase terhadap karirnya karena takut akan perubahan yang terjadi & harus dilakukannya.
Profesional dalam tipe itu seringkali melakukan pekerjaannya secara rerata atau penulis menyebutnya “Doing The Wrong Thing Well” karena takut untuk melakukan “Doing The Right Thing Poorly”.
Ada beberapa gejala umum untuk profesional tipe ini, yaitu:
1. Terdorong untuk menuntaskan tugas.
Baginya tugas-tugas berat & stratejik adalah penting untuk dituntaskan. Ketika mereka mendapat tugas yang biasa & berulang, mereka akan ter-demotivasi.
2. Gagal membedakan kata “mendesak” dari “penting”
3. Sulit mendelegasikan
Kesulitan ini berasal dari ketidak-percayaan tipe ini terhadap bawahannya bahwa mereka akan mampu menyelesaikan tugas sebaik mereka.
4. Berjuang dalam transisi dari pelaku ke penyelia.
Banyak manager handal memiliki masalah dalam menularkan keahlian teknis kepada bawahannya karena ketakutan mereka akan kehilangan hal terbaik yang dikerjakannya.
5. Terobsesi menyelesaikan pekerjaan dengan segala cara.
Hal ini akan sulit dilakukan karena pekerjaan akan selalu disela oleh melakukan pendampingan, memberikan feedback atau imbal balik pada bawahan, sementara tipe ini selalu ingin menyelesaikan pekerjaannya.
6. Menghindari percakapan yang sulit.
Karena tipe ini tidak punya cukup waktu untuk melakukan percakapan pribadi & penting dengan bawahannya.
7. Haus akan feedback.
Walau mereka haus akan feedback, namun sebenarnya mereka menghindari feedback yang negatif karena dapat menyakiti mereka. Mereka ingin menyenangkan semua orang & memanipulasi lingkungan sehingga seakan-akan dia hanya mendengar apa yang ingin dia dengar saja.
8. Mood yang berubah-ubah dari ekstrim ke lainnya.
9. Membandingkan.
10. Mengambil resiko yang aman.
11. Merasa bersalah
Buku ini juga dilengkapi dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menilai apakah kita memiliki ke-11 sifat tersebut.

Bab 1. The Challenge of Doing the Right Thing Poorly

Pembahasan utama dalam bab ini adalah, bahwa profesional tipe ini memiliki tingkat cemas atau “galau” yang luar biasa terhadap diri & lingkungan kerjanya, mulai dari keingingan mendengar feedback, kecemasan tidak diikutkan dalam hal atau putusan penting atau kecemasan sudah tidak dianggap berharga oleh organisasi. Dalam hal lain, organisasi juga telah gagal dalam membuat anggotanya di-ikutkan & merasa berharga.
Kebanyakan profesional menghindari terlihat rapuh ketika mereka telah mencapai puncak performa mereka. Tingkat kecemasan/galau yang tinggi untuk tidak ingin terlihat rapuh, menghalangi mereka untuk bisa maju & lebih baik lagi. Penulis mencontohnya bagaimana Tiger Woods, pada masa kejayaannya, diminta oleh pelatihnya, Butch Harmon, untuk merubah teknik swing-nya. Menurutnya Wood bisa saja terus menang, tapi dia tidak akan bisa sehebat Nicklaus dengan teknik swing seperti saat itu. Bayangkan jika kita menjadi Wood, apa reaksi kita? Maukah kita terlihat rapuh untuk kembali belajar hal yang baru.
Bab ini juga dilengkapi dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menilai kadar kecemasan kita untuk berubah & Do the Right Thing Poorly.

Bagian Kedua – The Big Three Anxieties

Bagian ini terdiri dari 3 bab yaitu, Purpose, Isolation & Significance.
Ketiga hal tersebut adalah 3 kecemasan atau ke-“galau”an yang selalu dialami oleh para profesional tipe ini.

Dalam bab Purpose, dijabarkan bagaimana Profesional biasanya kurang memiliki tujuan yang jelas akan karirnya, sehingga terjadi kebingungan tatkala mereka sudah pada posisi puncak. Hal ini tentunya ada andil dari perusahaan juga, dimana terdapat gap & ketidakterhubungan yang lebar antara organisasi & anggotanya. Bisa jadi karena kurangnya arahan, penghargaan atau identitas yang diberikan oleh perusahaan.
Kelanjutan dari kurangnya tujuan adalah Isolasi, profesional kemudian mulai meng-isolasi dirinya dari organisasi. Dia mulai merasa dirinya berbeda atau dibedakan. Merasa terkucilkan karena merasa kurang penting.
Ujung dari kedua hal di atas adalah, profesional ini merasa tidak ada orang yang peduli dalam organisasinya & merasa ia sudah tidak penting & dibutuhkan lagi oleh organisasi.

Bagian Ketiga – The Four Traps That Keep You From Change

Bagian ini terdiri dari 4 bab, yaitu:
Busyness, Comparing, Blame & Worry.
Ketika profesional puncak sudah terlalu sibuk, maka ada banyak hal yang dia akan lewatkan untuk dikerjakan & akibat lainnya adalah, menjadi kecanduan untuk sibuk. Ketika semua hal sudah dikerjakan & dicapai serta pekerjaan tidak terlalu banyak, maka dia akan merasa bersalah akan hal itu.
Membandingkan juga bisa menjadi jebakan, karena terkadang kita membandingkan banyak hal, seperti gaji, bonus dan lainnya tanpa ukuran yang benar & seimbang dengan industri maupun keadaan/kemampuan kita sebenarnya.
Profesional tipe ini dalam titik puncak menjadi rapuh pada kritik. Merasa terbaik & tidak menerima kritik, sehingga alih-alih menerima kritik, mereka akan mengalihkannya menjadi menyalahkan bawahan atau kolega lainnya.
Ujung dari jebakan tersebut adalah profesional tipe ini mulai khawatir akan segala hal. Cemas/galau mulai melanda, seperti, apakah saya sudah melakukan hal yang benar? Apakah saya masih diperlukan & berharga? Apakah ada krisis yang tengah menanti saya?

Bagian Keempat – Getting Over It

Terdapat 5 bab dalam bagian ini, yaitu Put It Behind You, Second Captain First Choose, Don’t Blink, Ask Someone to Dance, Returning to Rushmore.

Dalam bab pertama pada bagian ini, penulis menyarankan profesional untuk melupakan & meninggalkan perasaan-perasaan cemas dan galau mereka di belakang, karena hal tersebutlah yang banyak mempengaruhi keputusan mereka.
Dalam bab kedua, digambarkan mengenai bagaimana profesional puncak cenderung melakukan segala sesuatu sendiri. Anggota tim yang dipilih cenderung orang-orang yang dia sukai saja. Padahal seharusnya dia bisa memilih anggota tim yang mampu memberika dia pandangan lain sebagai penasihat. Ada 4 ciri dari anggota tim yang harus dipilih, yaitu:
1. Kemampuan berkomunikasi secara jelas & tulus
2. Empati
3. Memiliki persepsi baik dari orang lain
4. Memiliki rasa yang sama akan tujuan & nilai bersama (melihat pekerjaan dengan cara yang sama dengan anda).
Pada bab ketiga, penulis menyarankan profesional puncak untuk tidak terlalu banyak berpikir sehingga membuat ragu & sulit memutuskan. Jadilaj asertif terhadap diri sendiri. Ada 4 langkah yang bisa dilakukan untuk ini, yaitu:
1. Hadapi ketakutanmu. Apa yang membuatmu tertahan? Gunakan skill terbaik anda dan akui hal-hal yang anda tidak terlalu baik melakukannya.
2. Pergunakan pencapaian-pencapaian yang telah diraih untuk mengalahkan ketakutanmu.
3. Pertimbangkan kelemahan & ketidakpastian sebagai resiko untuk belajar & berkembang.
4. Gunakan sanksi negatif. Bayangkan anda berkedip & apa yang akan terjadi 5-10 tahun ke depan dengan keputusan tersebut.
Pada bab keempat, penulis menyarankan profesional puncak untuk melakukan hal yang berbeda & keluar dari rutinitas. Misalkan, mengajak atasan untuk makan, olahraga bersama & lainnya kegiatan informal & melakukan percakapan pribadi seputar pekerjaan & pencapaian kita. Bergabung dalam kepanitian dan projek lain di luar bidang anda juga dapat sangat membantu.

Dalam semua bab terdapat pertanyaan-pertanyaan untuk menilai diri sendiri serta terdapat cara untuk dapat mengatasi hal-hal yang dibahas dalam setiap bab tersebut.

Buku ini menjadi sangat bermanfaat bagi para Profesional Galau maupun Pemimpin serta Organisasi. Karena sesuai kata pepatah, “It Takes Two to Tango”, jadi sinergi antara para profesional & organisasinya menjadi penting, sehingga masing-masing pihak dapat memberikan keputusan yang baik. Profesional dapat mengetahui potensi & posisinya dalam organisasi, di sisi lain, Organisasi dapat tetap mempertahankan anggota terbaiknya dan mendapatkan kinerja terbaiknya pula.

Advertisements