Pas weekend kemarin gw nonton film yang relatively udah sedikit lama sih, “Up in the Air” nya George Clooney. Gw pikir ni film gak bagus, so don’t judge movie by its title ha3x.
Gw langsung tertarik nonton terus setelah 10-15 menit nonton. Secara garis besar film ini punya pesan moral yang sama dengan film “In Good Company”.
Keduanya ngomongin soal seorang senior dengan prestasi bagus di sebuah perusahaan, terus masuklah anak muda di perusahaan itu yang membuat mata direksi-nya “berbinar-binar” & kesengsem karena menawarkan gagasan & metode baru. Yang membuat mata Direksi “berbinar-binar” tak lain adalah anak muda ini bisa menghasilkan profit lebih besar, dengan bayaran yang masih murah & ia bisa menawarkan efisiensi. Namun yang luput dari pandangan Direksi adalah.. Si senior punya wisdom, dia punya relasi yang sudah terbangun sangat dekat & baik dengan rekan bisnis perusahaan yang belum dimiliki si anak muda.
Di film In Good Company, si anak muda punya gagasan-gagasan baru yang gak cocok dengan gagasan si senior yang dianggap old fashion. Si senior pun akhirnya harus rela kehilangan pekerjaan karena sudah ada si junior. Hingga suatu saat, si junior gagal dapatkan deal dari klien terbesar, karena si klien tidak suka dengan cara si junior menjalin relasi. Perusahaan nyaris kehilangan klien terbesarnya. Akhirnya si senior menyelamatkan bisnis dengan mendapatkan deal si klien yang adalah relasi terbaik dari si senior. Si junior akhirnya mengundurkan diri & si senior kembali ke jabatannya semula.
Di film Up in the Air, si anak muda menawarkan agar proses pemecatan yang selama ini dilakukan 1 on 1 agar dilakukan via skype atau video conference. Direksi menganggap ini ide anak muda yang brilian & bisa saving banyak sekali uang perusahaan. Padahal menurut si senior yang diperankan Clooney, proses pemecatan itu sensitif & bahaya jika dilakukan tanpa melalui 1 on 1. Yang menarik, si Direksi cukup wise dengan meminta proses mentoring & pendampingan senior-junior. Walaupun sistem video conference akhirnya dijalankan, tapi gak berlangsung lama. Karena si junior akhirnya resign setelah ada salah 1 orang yang dipecatnya bunuh diri. Maka sistem video conference di pertimbangkan ulang oleh Direksi & kembali ke cara lama yaitu 1 on 1.
Hal yang menarik dari kedua film ini adalah.. Generation Gap memang sudah terjadi lama, isu dari tahun ke tahun yang akan selalu ada. Tugas pemimpinlah untuk membuat Generation Gap ini menjadi sinergi dan bukan untuk semakin direnggangkan atau berpihak pada salah satu generasi.
Kedua, teknologi memang murah & memudahkan. Tapi sisi manusia & interaksi langsung 1 on 1 dalam banyak hal lebih baik, karena ada sisi manusia yang berinteraksi langsung tanpa ada media yang membatasinya.

Advertisements