Judul Buku: The Greatest Business Decisions of All Time

Penulis: Verne Harnish & the editor of Fortune
Penerbit: Fortune
Tahun: 2012

Jim Collins dalam prakata buku ini mengatakan bahwa keputusan terbaik bukan terletak pada “apa” tapi pada “siapa”. Masa depan penuh ketidakpastian dan faktor manusia lah yang paling penting dalam menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.

Ada 18 perusahaan dunia yang dibahas dalam buku ini dan pembahasan lebih kepada orang dan putusan-putusan apa yang mereka lakukan hingga perusahaan tersebut maju dan mendunia.

Berikut ke-18 orang dengan keputusannya yang merubah nasib organisasinya:
1. Apple – Let’s bring back Steve

Ketika diminta kembali ke Apple pada 1996, Jobs terlihat enggan dan lebih memilih menjadi informal adviser. Sebenarnya Jobs ingin berada di kursi dewan direksi namun ditolak oleh Amelio sebagai CEO Apple saat itu.
Hal yang menarik adalah ketika Amelio telah mengundurkan diri, Jobs tetap enggan menjadi CEO dan lebih ingin dirinya menjadi iCEO atau interim CEO, dari sinilah huruf i selalu dibawa dan menjadi ciri khas nama produk Apple mulai dari ipod, iphone hingga ipad.
Yang membuat kembalinya Jobs begitu berarti bagi Apple adalah karena kepemimpinannya cocok dengan budaya perusahaan yang dia dirikan, bagaimana semangat, kharisma dan harga dirinya membuat orang-orang bersemangat bekerja di Apple.

2. Zappos – How free shipping saved Zappos

Yang berbeda dengan Zappos adalah, mereka berjuang untuk menyediakan layanan jasa terbaik di planet ini. Mereka tahu bahwa membeli sepatu tanpa mencoba kurang afdol. Akhirnya mereka memberikan gratis ongkos kirim dan pengembalian jika sepatu tidak cocok di kaki pelanggan. Saat ini Zappos menjadi perusahaan dengan layanan terbaik secara online maupun offline.
Secara organisasi, the Zappos Culture Book yang membuat orang-orang Zappos berbeda.

3. Samsung – Why Samsung pays its stars to goof off

Samsung, layaknya perusahaan Asia pada umumnya, memiliki budaya yang statis dan lebih melihat ke dalam mengembangkan organisasinya. Pada tahun 1990, Lee Kun-He, CEO, memutuskan untuk mengirim karyawan muda terbaiknya ke berbagai belahan dunia hanya untuk melakukan studi & observasi tentang budaya dan pasar di sana serta membangun jaringan usaha. Dan kini, usahanya menunjukkan hasil dengan didapuknya Samsung sebagai brand yang bisa mengungguli kesuksesan Sony bahkan bersaing dengan Apple.

4. Johnson & Johnson – the shareholder comes last

Kasus Tylenol yang menimpa J&J telah menjadi textbook dalam crisis management. Keputusan James E. Burke, CEO, yang sangat tepat saat itu telah meninggalkan credo bahwa tanggung jawab terbesarnya adalah bukan pada pemegang saham tapi pada pengguna atau pelanggan yang menggunakan produk J&J.
Burke memutuskan melakukan investasi besar dengan membuat kemasan anti bocor dan anti tembus. Market share sudah turun hingga 7%, tapi J&J memberikan iklan yang simpatik kepada pelanggan dan memberikan mereka kupon gratis untuk membeli Tylenol baru sebagai pengganti Tylenol lama yang pelanggan telah buang. Dan setelah itu market share J&J kembali ke angka 30%.

5. 3M – Why daydreaming pays off big

Kebijakan 15% yang dicanangkan pada tahun 1948 menghasilkan berbagai inovasi untuk 3M. Apapun tugas yang dimiliki bagian teknis, mereka didorong untuk meluangkan 15% dari waktu kerjanya untuk melakukan proyek independen untuk inovasi. Dari kebijakan inilah inovasi seperti sandpaper atau amplas dan post-it hadir ke dunia ini.

6. Intel – How Intel got consumers to love chips

Pada awalnya processor hanyalah bagian dari sebuah PC atau server saja dan tidak diketahui konsumen. Namun berkat putusan dari Andy Grove, CEO Intel pada pertengahan 1980-an merubah segalanya.

Berawal dari cepat ausnya processor dan harus disempurnakan serta diganti setiap 18-24 bulan, namun hal ini tidak disadari bahkan diacuhkan oleh konsumen karena menganggap processor sebelumnya masih bisa berjalan dengan baik. Intel kemudian serius mengadakan marketing research untuk mengetahui bagaimana cara memberikan pengertian dan membuat mereka sadar akan hal ini.
Hasil dari marketing research berbuah putusan untuk membuat kampanye iklan dengan biaya murah, yaitu menggunakan Billboard. Dari sinilah awal mula logo lingkaran dengan tulisan di dalamnya berasal. Iklan ini telah berhasil menumbuhkan kesadaran konsumen akan perlunya mengganti processor dan merek Intel itu sendiri. Sejak saat itu kampanye marketing bergulir, hingga akhirnya logo dengan tulisan “Intel Inside” ada hingga saat ini dan Intel berhasil meraih 80% dari market share.

7. GE – Jack’s cathedral

Sebagai CEO baru, Welch, telah memecat 100,000 karyawan dan disaat bersamaan berinvestasi $50 juta untuk membangun executive education center bernama GE’s Crotonville, sekolah bagi eksekutif GE sebagai alat untuk mengajarkan visi dan nilai dari GE. Sebuah contoh bagi korporasi lain dan menjadikan sekolah korporasi sebagai hal yang penting dan seksi. Sekolah ini juga menginspirasi Steve Jobs membuat sekolah internal untuk Apple, pada 2009 Jobs meyakinkan Rektor dari Yale School of Management, Joel Podolny, untuk meninggalkan Yale dan membangun sekolah di Apple.

8. Microsoft – Bill Gates decides to take a week off

Bila GE punya Crotonville sebagai inovator dari perusahaan, maka Bill Gates punya “Think Weeks” di Microsoft. Think Weeks adalah masa, dua kali setahun, ¬†dimana Gates akan mengasingkan diri untuk membaca proposal-proposal inovasi yang dibuat oleh karyawannya dan memilih proposal mana yang akan dijalankan. Proposal-proposal dibuat dan dimasukkan karyawan ke dalam Think Weeks box untuk kemudian dikirimkan ke tempat kontemplasi Gates tersebut. XBox adalah salah satu inovasi yang dihasilkan dari Think Weeks ini.

9. Minetonka – Softsoap’s blocking decision

Pada awal era 80-an, Robert Taylor, CEO Minetonka, menciptakan inovasi dengan memproduksi sabun cair dalam botol berpompa. Produknya bernama Softsoap dan berhasil mengungguli produk dari perusahaan besar macam P&G dan Colgate Palmolive saat itu. Namun Softsoap lambat-laun tak kuasa menahan gempuran saingan besarnya, karena merekapun mulai memproduksi produk serupa dengan harga yang bersaing. Akhirnya pada 1987, Softsoap dijual kepada Colgate dengan harga $75 juta pada saat itu dan Minetonka beralih ke usaha penjualan parfum.

10. Toyota – Toyota pursues zero defects

Pada tahun 1961, Toyota sempat gagal di Amerika. Mereka menutup kantornya dan menghentikan penjualan Toyopet, karena minicar ini memiliki banyak cacat dan kalah kualitas dibanding mobil eropa seperti VW dan berharga terlalu mahal.
Di tengah krisis ini, president Taizo Ishida memutusklan untuk memakai jasa W. Edward Deming, ahli statistik Amerika, untuk mengadopsi pemikirannya tentang Continuous Improvement. Continuous Improvement inilah yabg menyelamatkan dan mengembalikan kejayaan Toyota yang terkenal dengan Zero Defects nya.

11. Nordstorm – Extreme customer service

Keputusan Nordstorm untuk mengizinkan pelanggan mengembalikan barang yang telah dibelinya karena rusak dan sebagainya kemudian Nordstorm akan menggantinya adalah keputusan revolusioner yang radikal dalam industri pelayanan jasa. Bahkan kasir dan petugas diberikan wewenang untuk mengambil keputusan yang baik ketika ada keluhan dari pelanggan di tempat.
Kebijakan seperti ini memang selalu dimanfaatkan oleh para penipu. Namun teknologi informasi yang digunakan, bisa melacak hal-hal yang tidak diinginkan oleh Nordstorm.

12. Tata Steel – Taking the sting out of a painful situation

Deregulasi di India pada awal 1991, memaksa Tata Steel untuk berubah. Perubahan sistem ekonomi di India dari sosialis menjadi kapitalis membuat privatisasi dan keterbukaan India terhadap pasar Internasional. Sebelum deregulasi terjadi, pasar ditentukan oleh pemerintah, bahkan termasuk tenaga kerja. Tata mempekerjakan hampir 78.000 orang di wilayah Jamsedhpur, wilayah dengan hasil alam bijih besi dan minyak, dimana semua tenaga kerja tersebut adalah keluarga turun-temurun yang telah bekerja hampir di sepanjang hidupnya di Tata Steel. Hal ini menimbulkan inefisiensi karena kebanyakan mereka tidak melakukan pekerjaan apa-apa dan tidak berhubungan langsung dengan core business Tata.

J.J. Irani, CEO, pada tahun 1993, mengeluarkan keputusan kontroversial, yaitu melakukan rasionalisasi dari 78.000 tenaga kerja hingga menjadi 47.000 saja secara bertahap hingga tahun 2004 atau sekira 11 tahun. Irani menwarkan paket PHK kepada karyawan yang dianggap tidak produktif, yaitu:
1. Pekerja berumur di bawah 40 tahun akan dijamin pembayaran gajinya hingga masa pensiunnya yaitu usia 61 tahun; dan
2. Pekerja yang berumur di atas 40 tahun akan dijamin pembayaran gajinya 20% lebih besar dari gajinya sekarang hingga memasuki masa pensiunnya.

Secara matematis terlihat seperti tidak ada bedanya antara tetap mempekerjakan mereka atau mem-PHK mereka. Namun ternyata kebijakan ini menguntungkan, karena pembayaran gaji tetap hingga masa pensiun dan Tata Steel tidak terbebani biaya pajak, asuransi dan biaya buruh. Hingga tahun 2004 sudah $1 milyar bisa dihemat dan beralih menjadi investasi, sehingga Tata Steel mampu membeli perusahaan dunia seperti Tetley Tea, Corus Steel, dan Jaguar Rover Group.

13. Boeing – Boeing bets big on the 707

Boeing dulu hanya memproduksi pesawat militer, namun pada era kepemimpinan CEO Bill Allen, Boeing kemudian juga memproduksi pesawat sipil komersial, karena di sektor konsumen sipil inilah ke depan industri pesawat akan mengalami booming. Semenjak itu Boeing beranjak maju dan kemudian membeli perusahaan saingannya yaitu Mc Donnell Douglas.

14. IBM – IBM’s operation bear hug

IBM’s operation bear hug adalah program yang digulirkan Lou Gerstner pada era 1993, yaitu program untuk mengetahui apa yang konsumen inginkan dari IBM secara lebih dekat. Gerstner sebelumnya adalah konsultan di McKinsey yang pernah menjadi eksekutif di American Express dan RJR Nabisco, maka wajar bila kehadirannya dipandang sebelah mata. Namun pengalaman Gerstner sebagai konsumen IBM memberikannya pengetahuan akan apa yang perlu diperbaiki di IBM.
Dengan Operation Bear Hug, IBM mendapat 3 tujuannya, yaitu:
1. Mengetahui kebutuhan konsumennya;
2. Memberi Gerstner bahan marketing intelligence dan insights; dan
3. Mengembalikan kepercayaan IBM pada Gerstner sebagai pemimpin.

15. Wal Mart – Wal Mart’s Saturday morning meeting

Wal Mart, 50 tahun lalu belum terlalu diperhitungkan, hingga Sam Walton, pendiri, memutuskan untuk melakukan rapat pagi di hari Sabtu untuk mengetahui dan berdiskusi dengan para pegawainya mengenai operasional Wal Mart. Hal ini kemudian bisa mendongkrak penjualan dan market share dari Wal Mart.

16. Eli Whitney – Is your business in trouble pivot?

100 tahun yang lalu, Eli Whitney, seorang pengusaha kapuk yang sukses kemudian nyaris bangkrut, telah merevolusi produksi sebuah barang yang harus diproduksi dengan penuh ketelitian dan memerlukan tenaga ahli menjadi produksi masal yang dapat dikerjakan oleh tenaga bukan ahli. Eli Whitney membuat sistem standarisasi produksi untuk membuat senjata secara masal.

17. HP – The HP way: putting trust before profit

Pendiri HP, Bill Hewlett dan Dave Packard percaya bahwa organisasi harus dibangun dengan membangun kepercayaan dan hormat pada setiap anggotanya, maka lahirlah HP way. HP mengedepankan kemurahan hati perusahaan, team work, inovasi dan fleksibilitas serta rasa shared values.

18. Ford – The single greatest decision of all time?

Sebelum tahun 1914, Ford membayar pekerjanya sekecil mungkin, kisaran $2.50 per hari. Namun Ford akhirnya memutuskan menaikkan hingga 2x yaitu $5 per hari karena tingginya angka turn over saat itu yang dipicu naiknya produksi mobil Model T dengan gaji yang kecil.
Maka pada 5 Januari 1914, Henry Ford dan Couzen melakukan konfrensi pers dan mengumumkan keputusan berikut:
1. Mengurangi jam kerja dari 9 ke 8 jam sehari;
2. Menambah shift kerja dari 2 menjadi 3; dan
3. Menaikkan gaji ke $5 per hari.

Ternyata keputusan di atas masih belum mengangkat produktifitas. Maka pada tahun 1935, Ford memutuskan untuk memberikan bonus reguler dan mendirikan departmen medik untuk merawat karyawan yang cedera karena kerja serta membangun lapangan atletik, tempat bermain dan pertunjukkan untuk karyawan.

Advertisements