Judul Buku : Muhammad Al-Fatih
Penulis : Syaikh Ramzi Al-Munyawi
Tahun : 2011-2012
Penerbit: Al-Kitab Al-Arabi, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta

Buku ini dibuka dengan nukilan dari hadits riwayat Ahmad dari Rasulullah SAW, beliau bersabda:
“Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah penakluknya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.”

Muhammad Al-Fatih adalah turunan ke-3 dari Daulah Ustmaniyah. Kakeknya adalah Ustman bin Erthugrul dan bapaknya adalah Sultan Murad II.

Al-Fatih menjabat sebagai sultan pertama kali pada usia 11 tahun namun jabatan itu dikembalikan kepada Murad II pada tahun Januari 1445 M setelah terjadinya pertempuran di kota Varna. Pada Desember 1445 singgasana kembali diberikan kepada Al-Fatih. Namun pada Mei 1446 M, kesultanan kembali dijabat Sultan Murad II sementara Al-Fatih diangkat menjadi Gubernur Sharukhan di Maneesa, ia pun menjadi penguasa pelaksana dan panglima militer pada kawasan Asia.
Al-Fatih benar-benar menjadi sultan pada Februari 1452 M ketika usinya 19 tahun setelah Murad II meninggal dunia. Kekuasaannya saat itu sudah terbentang dari Irak ke Eropa Timur. Ibukota daulah berada di Adarnah di timur Turki.

Orang yang berperan besar dalam membentuk akhlak dan kepribadian Al-Fatih adalah ulama sekaligus guru beliau yang bernama Aaq Syamsuddin. Aaq Syamsuddin lah yang berulang kali menekankan bahwa Al-Fatih lah orang yang disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits-nya sebagai calon penakluk Konstantinopel. Beliaulah satu-satunya ulama yang berhasil mengajar dan menaklukkan Al-Fatih yang keras kepala.

Al-Fatih adalah pemuda yang atletis, percaya diri, pandangan mata tajam dan berkulit putih. Berkarakter dominan, cerdas, berwawasan luas, visioner dan mampu memberikan solusi. Beliau sangat mencintai para ulama & sastrawan. Ia sangat suka berdiskusi. Hidupnya sangat sederhana, tidak lebih dari kegiatan membaca, berlatih seni perang & berburu. Meja hidanganpun sangat sederhana. Al-Fatih sangat mencintai ilmu, ilmu Qur-an, hadits, fikih & ilmu-limu modern.

Beliau banyak mendirikan sekolah & institut, berusaha untuk memanggil para ulama & sastrawan dari berbagai penjuru dunia dan bekerja untuk mengembangkan ilmu pengajaran. Ia mendekati para ulama, mengangkat kedudukan mereka & mendorong mereka untuk bekerja & berkarya.

Al-Fatih juga pemimpin yang melayani rakyat. Ia seringkali keluar sendiri di malam hari untuk mendengarkan pembicaraan & keluhan mereka secara langsung dengan penuh kesadaran & perhatian. Untuk itu ia didukung oleh para pejabatnya yang kapabel.

Urusan perdagangan & produksi (manufakturing) juga menjadi perhatiannya, serta berusaha meningkatkan keduanya melalui berbagai sarana, pendukung & metode. Infrastruktur pun dikembangkan, seperti jalan & jembatan yang dibangun untuk memudahkan perjalanan ke penjuru negeri.

Al-Fatih menerapkan konsep Islami yang toleran. Ia mengutus pemuka agama kristen untuk melakukan penelitian dan juga membuka sarana kritik bagi mereka terhadap pemerintahan.

Hukum diterapkan secara Islami & adil. Hakim yang korupsi akan dihukum mati.

Penaklukan Konstantinopel

Kaum muslimin telah mengepung Konstantinopel sebanyak 11 kali -sebelum pada kali yang terakhir dimana penaklukan berhasil-, 7 kali di antaranya dilakukan pada 2 abad pertama Islam.

Penaklukan baru terwujud pada tahun 857 H/1453 M di bawah kepemimpinan Sultan Muhammad II (Al-Fatih), putra Sultan Murad II.

Bersama 250.000 prajurit, Al-Fatih tiba di ujung Konstantinopel pada Kamis, 26 Rabi’ul Awwal 857 H/6 April 1453 M. Al-Fatih mengalami kesulitan memasuki pantai Konstantinopel karena perairan telah dipasangi rantai untuk merusak kapal-kapal yang akan masuk. Al-Fatih kemudian menemukan cara untuk bisa memasuki pantai Konstantinopel tanpa terkena ranjau rantai dan tidak terlacak dari benteng pengintai di Galota. Cara yang tidak pernah bisa terpikir sebelumnya, yaitu memindahkan kapal-kapal dari tempat berlabuhnya menuju Teluk Tanduk Emas dengan cara menariknya melalui jalan darat yang terletak antara dua pelabuhan demi menjauhi Benteng Galota, karena khawatir kapal-kapal itu akan terlihat oleh pasukan sebelah barat. Karena permukaan yang akan dilalui berupa perbukitan dan terjal serta tidak mulus, maka pasukan mulai meratakan permukaan tanah untuk memuluskannya. Kemudian ditaruhlah papan-papan di atasnya yang diolesi minyak dan lemak agar kapal mudah digerakkan ,dipindahkan dengan cara diluncurkan ke bagian lain dari bukit tersebut. Beruntung kapal-kapal perang Ustmani berbentuk kecil dan ringan.

Penduduk Konstantinopel terkejut ketika pada pagi hari, 22 April, mendengar suara takbir pasukan Ustmani yang menggema di Teluk Tanjung Emas. Upaya pasukan Al-Fatih memasuki kota tak mudah karena kokohnya benteng.

Al-Fatih kembali menggunakan cara yang mengagumkan yaitu dengan membuat lubang-lubang terowongan bawah tanah untuk memasuki kota.

Metode baru lainnya adalah membuat benteng kayu yang besar dengan tinggi 3 tingkat atau harus lebih tinggi dari tingginya benteng. Benteng ini ditutupi dengan perisai dan kulit yang dibasahi untuk melindungi dari meriam api.

Ketika Al-Fatih yakin bahwa kota sudah akan bisa dia kuasai, namun ia tetap berusaha memasuki kota dengan cara damai. Ia menulis pesan pada kaisar untuk memintanya menyerahkan kota tanpa pertumpahan darah & juga menawarkan jaminan keamanan bagi kaisar, keluarga serta penduduk yang ingin keluar dengan aman, dan bahwa nyawa seluruh penduduk kota akan dijaga dan tidak mendapatkan perlakuan buruk sedikitpun, dan bahkan mereka berhak memilih: tetap tinggal di kota atau pergi. Namun Kaisar rupanya memilih mempertahankan kota.

Maka, seranganpun kembali dilakukan. Ada hal menarik yang diperintahkan oleh Al-Fatih pada waktu melakukan penyerangan ke kota, titahnya kepada pasukannya waktu itu adalah:

“Setiap prajurit harus selalu meletakkan ajaran Syariat Islam di depan matanya. Jangan sampai ada seorangpun yang melakukan hal yang bertentangan dengan Islam. Hindarilah gereja dan tempat-tempat ibadah, jangan sampai ada yang mengganggunya! Biarkanlah para pendeta & orang-orang lemah yang tidak berdaya yang tidak ikut berperang!”

Pada jam 1 pagi di hari Selasa, 20 Jumadil Ula 857 H/29 Mei 1435 M, dimulailah penyerangan umum atas kota Konstantinopel. Penyerangan berakhir sebelum tengah hari dengan telah ditaklukkannya Konstantinopel oleh Al-Fatih.

Al-Fatih memerintah dengan adil, bijaksana & toleran. Sultan memberikan kebebasan bagi kaum Kristen untuk menjalankan ajaran-ajaran agamanya dan memilih pemimpin agama yang berhak memberikan putusan dalam persoalan-persoalan sipil.

Demikianlah kota Romawi itu akhirnya ditaklukkan, dan usia Al-Fatih saat itu 25 tahun. Semuanya setelah melewati pengepungan selama 50 hari. Itulah kota yang telah dikepung sebanyak 29 kali. Dan saat itu jumlah penduduk kota adalah lebih dari 300.000 jiwa. Berakhirlah abad pertengahan Eropa dan awal abad baru. Kemudian Al-Fatih merubah nama Konstantinopel menjadi Islambul yang berarti: Ibukota Islam. Meski kemudian disimpangkan menjadi “Istambul”.

Setelah konstantinopel, Al-Fatih melanjutkan penaklukan-penaklukannya ke wilayah-wilayah sekitar Eropa timur, Rusia, Yugoslavia dan Yunani serta Asia kecil, walaupun banyak yang tidak berhasil. Yang paling menarik adalah penaklukan Vlad Dracula III dari Bulgaria, walaupun Vlad berhasil melarikan diri. Inilah yang menjadi kisah legendaris Dracula yang biasa kita ketahui saat ini. Ternyata Vlad Dracula memang raja yang kejam dan suka menyiksa.

Penaklukan pun terjadi di Bosnia, maka hingga sekarang saudara kita di Bosnia mayoritas memeluk agama Islam.

Advertisements