Judul buku: The Power of Habit – Why we do what we do and how to change
Penulis: Charles Duhigg
Penerbit: Random House
Tahun: 2013

Buku setebal 286 halaman ini memberikan kepada pembacanya contoh-contoh kasus berikut ulasan dan kesimpulan mengenai bagaimana usaha-usaha untuk merubah kebiasaan dilakukan. Hal yang paling sulit untuk merubah kebiasaan adalah mengetahui apa yang menyebabkan kebiasaan tersebut dan bagaimana merubahnya. Hal lainnya yang juga cukup sulit adalah upaya untuk merubahnya secara disiplin ketika kita telah mengetahui bagaimana merubah kebiasaan tersebut.

Beberapa contoh kasus disajikan dalam buku ini, diantaranya adalah:
1. Febreze.
Febreze adalah produk penghilang bau dari P&G. Febreze adalah produk yang bagus namun kurang berhasil dalam penjualan karena salah dalam memahami kebiasaan konsumen. Untuk konsumen yang sudah terbiasa dengan bau tertentu, maka fungsi penciumannya pun sudah terbiasa dengan bau tersebut sehingga manfaat Febreze tidak bisa dirasakan. Kesalahan lainnya adalah, banyak konsumen malu membeli Febreze karena malu terasosiasi dengan bau, jika membeli Febreze maka orang akan menduga jika rumahnya bau atau kotor. Setelah melakukan riset terhadap kebiasaan konsumen, Febreze akhirnya mengetahui bahwa konsumen selalu menyemprotkan pengharum sebagai penutup dari sesi bersih-bersih rumah mereka. Maka Febreze merubah fungsi produk dari penghilang bau menjadi pelengkap penyegar ruangan. Perubahan ini merubah imej produk serta memberikan kecanduan baru bagi para konsumen, yaitu kecanduan akan menyemprotkan Febreze sebagai penyegar di ujung sesi bersih-bersih dan menimbulkan kebiasaan baru bagi konsumen.

2. Pepsodent
Keberhasilan pemasaran pepsodent adalah setelah pepsodent mengetahui apa yang menjadi candu bagi konsumen, yaitu sensasi kesat & segar di mulut setelah menggosok gigi sehingga konsumen merasa giginya telah bersih dan putih.

3. Starbucks
Starbucks memiliki metode LATTE untuk membantu karyawannya menghadapi pelanggan dan membiasakan mereka memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggannya. LATTE adalah singkatan untuk Listen to the customer, Acknowledge their complaint, Take action by solving the problem, Thank them and then Explain why the problem occurred.
Dari ketiga contoh kasus di atas, berikut contoh-contoh lainnya dalam buku tersebut, penulis merumuskan 4 framework (kerangka) dalam mengetahui pemicu kebiasaan dan bagaimana cara merubahnya, yaitu sebagai berikut:

1. Langkah 1: Kenali Rutinitas

Untuk mengetahui kebiassan, kenalilah komponen-komponen dari urutan rutinitas kita. Kenali dan pahami urutan-urutan dari rutinitas kebiasaan kita, untuk mengurai & melacak penyebabnya nanti.

2. Langkah 2: Beruji-coba dengan Hadiah

Untuk mengetahui candu yang menyebabkan kebiasaan kita, uji-coba dengan hadiah yang berbeda-beda akan sangat bermanfaat.
Tulislah tiga hal yang terlintas dalam benak kita ketika kita melakukan suatu aktivitas. Kemudian pasang alarm 15 menit ke depan. Ketika alarm telah berhenti berbunyi, apakah kita masih merasakan keinginan yang sangat terhadap sesuatu. Fungsi dari alarm adalah untuk menentukan hadiah apa yang menjadi candu bagi kita sehingga menjadikan itu sebagai kebiasaan. Contoh, jika setelah alarm berbunyi kita masih menginginkan suatu hal, misal merokok, walau telah diganti dengan permen, berarti kecanduan bukan diakibatkan oleh rasa tidak enak di mulut.
3 hal pentingnya menuliskan hal di atas adalah:
a. Memaksa untuk menyadari perasaan atau apa yang sedang kita pikirkan;
b. Mengingat kemudian tentang apa yang terpikir saat itu; dan
c. Menemukan hal yang sering dirasakan atau terpikir secara cepat & tepat yang menjadi pemicu dari kebiasaan tersebut.
Dengan cara-cara di atas, kita bisa mengetahui “candu” apa yang menyebabkan kebiasaan kita.

3. Langkah 3: Meng-isolasi Cue (Stimulus)

Salah satu alasan mengapa sangat sulit untuk mengidentifikasi cues (stimulus-stimulus) karena terlalu banyaknya informasi yang ada pada kebiasaan kita.
Untuk mengidentifikasinya, ilmu pengetahuan telah memiliki alat untuk bisa mengetahui cues ini. Percobaan menunjukkan bahwa 5 kategori di bawah cocok dengan cue (stimulus) yang menyebabkan kebiasaan, yaitu:
a. Lokasi
b. Waktu
c. Keadaan emosional
d. Orang lain
e. Tindakan segera sebelumnya

Kelima kategori di atas dapat diterapkan dalam bentuk pertanyaan untuk dapat mengisolasi cue (stimulus), sebagai berikut:

Sedang berada dimana? (Duduk di kursi)
Jam berapa? (3.36 sore)
Apa yang dirasakan saat itu? (Bosan)
Ada orang lain disekitar? (Tidak)
Sebelumnya apa yang dikerjakan? (Membalas email)

Hari berikutnya:
Sedang berada dimana? (Kembali dari melakukan photo copy)
Jam berapa? (3.18 sore)
Apa yang dirasakan saat itu? (Senang)
Ada orang lain disekitar? (Jim)
Sebelumnya apa yang dikerjakan? (Melakukan photo copy)

Hari berikutnya lagi:
Sedang berada dimana? (Ruang konferensi)
Jam berapa? (3.41 sore)
Apa yang dirasakan saat itu? (Cape, semangat akan proyek yang akan dilakukan)
Ada orang lain disekitar? (Para editor)
Sebelumnya apa yang dikerjakan? (Duduk karena rapat akan dimulai)

Ulangi pertanyaan-pertanyaan di atas di waktu yang sama atau di saat kita memiliki keinginan melakukan kebiasaan tertentu. Kita akan mengetahui pola dan cue (stimulus) apa yang menyebabkan kebiasaan kita. Dari contoh di atas jelas, bahwa cue (stimulus) dari orang tersebut adalah mengobrol dengan orang lain. Jika sebelumnya dia memiliki kebiasaan mengudap di jam tersebut, maka mengobrol akan menghilangkan kebiasaan mengudapnya.

4. Langkah 4: Miliki Rencana

Setelah 3 langkah di atas dilakukan dan mendapatkan cue (stimulus), maka milikilah rencana untuk merubah kebiasaan tersebut.
Tulislah rencana anda dan bila perlu pasanglah alarm atau pengingat untuk mengingatkan anda agar konsisten dalam merubah kebiasaan yang sekarang dijalani.

Advertisements