Judul buku: The Gen Y handbook – Applying Relationship Leadership to Engage Millennials
Penulis: Diane E. Spiegel
Halaman: 115
Penerbit: Selectbooks inc.
Tahun: 2013

Diane Spiegel adalah pendiri dari The End Result Partnrtship Inc. dan seorang pemimpin ternama dari pelatihan & pengembangan bagi korporasi di Amerika. Dia menciptakan metode pelatihan “Sage Leadership Tools”. Spesialisasi Diane adalah menawarkan kepada korporasi proses strategis untuk mengedukasi dan  mengembangkan karyawannya serta menyediakan kerangka kerja untuk perubahan budaya dan organisasi.

Buku ini terdiri dari 7 bab dibuka dengan menerangkan apa yang dinamakan Gen Y dan apa perbedaannya dengan generasi pendahulunya seperti Gen X dan Baby Boomers.

Gen Y lahir pada rentang 1981 – 1999 dan, di Amerika ada 75 juta jumlahnya yang melek teknologi dan sudah siap mememuhi pasar kerja di sana.

Sementara Gen X adalah mereka yang lahir antara 1965 – 1980 dimana mereka menghadapi ketidakjelasan masa depan di saat itu.

Generasi pendahulu dari keduanya di atas adalah Baby Boomers yang lahir di masa perang dan resesi.

Baby Boomers bekerja sangat keras, rata-rata 16 jam/minggu, menempatkan karir sebagai no. 1 & keluarga setelahnya.

Gen X lebih skeptis, independen, non status quo, free agent mindset serta sudah mulai memikirkan life-work balance.

Gen Y, memiliki konektivitas yang baik melalui internet dan melek teknologi, sehingga mereka merasa sebagai “Global Citizen”, lebih fleksibel, memerlukan feedback harian dan memerlukan transparansi.

Gen Y dibesarkan oleh orang tua yang disebut oleh penulis sebagai “Orang Tua Helicopter” yaitu orang tua yang bagai helicopter selalu terbang dan melayang di sekitar, selalu mengasuh dan membimbing anaknya. Mereka juga dianggap “Trophy Kid” yang merupakan kebanggaan dan kesayangan orang tua, yang selalu mendapat penghargaan dan hadiah walau hanya bermain beberapa menit misalnya.

New York Times menyebut Gen-Y sebagai “Adultescence” gabungan dari Adult/Dewasa dan Adolescent/Remaja karena mereka memiki rasa remaja dengan kepemilikan kartu kredit seperti orang dewasa.

Menurut penulis, ada beberapa poin untuk memahami Gen Y:
1. Karena memiliki Helicopter Parents, mereka memerlukan bimbingan dan perhatian yang sama dari atasan seperti yang mereka dapat dari Helicopter Parents mereka. Oleh karena itu diperlukan mentor untuk mengembangkan mereka.

2. Mereka tidak nyaman dengan konflik dan tidak memiliki banyak pengalaman untuk menyelesaikan konflik karena segala kemudahan selalu diberikan orang tuanya. Gen Y tidak cocok memiliki bos yang kasar.

Ketika konflik melibatkan Gen-Y, maka penulis menyarankan menggunakan pendekatan HELP pada mereka, yaitu:
Hear (Dengar): dengarkan keluhan dan pendapat mereka
Encourage (dukung) mereka untuk mencari inti dari konflik, apakah salah komunikasi? Salah paham? Kecewa?
Lead (Bimbing) dengan contoh. Tenangkan mereka dan berikan contoh untuk penyelesaian konflik.
Praise (Puji) mereka ketika mereka mencoba mengelola masalah dan menyelesaikannya.

Jika terlibat konflik dengan Gen-Y dan menyebabkan terganggunya hubungan, maka penulis menyarankan untuk dilakukan hal-hal sebagai berikut:
A. Minta maaf dengan tulus
B. Dengarkan perasaannya tentang konflik tersebut.
C. Minta kesempatan lain untuk memperbaiki hubungan.
D. Tunjukkan kepercayaan dan tindak lanjutnya.
E. Akui kesalahan dan jauhi melakukan justifikasi.

3. Terbiasa dengan hal yang sudah terstruktur karena terbiasa mengikuti jadwal.

4. Senang bertanya “kenapa”. Gen Y tidak takut untuk bertanya bahkan mengekspresikan dirinya serta mempertahankan pendapatnya.

5. Butuh banyak feedback dan bimbingan.

Tunjukkan bahwa kita akan selalu ada untuk kebutuhan mereka.

Dalam memberikan feedback/masukan kepada Gen-Y, hindari metode “Sandwich” yaitu kritik yang dihimpit oleh pujian. Bedakan dan sampaikan secara jelas apa yang positif dan kritik membangun untuk mereka sehingga tidak mengaburkan atau membingungkan mereka dalam menerima masukan.

6. Butuh transparansi dan kepercayaan. Atasan yang tidak jujur, tidak konsisten dalam perkataan akan membuat mereka ilfil.

Untuk menumbuhkan kepercayaan, penulis memberikan langkah-langkah berikut:
A. Tunjukkan komitmen setiap hari. Istilah “walk the talk” harus dilakukan setiap hari.
B. Tunjukkan penghargaan kepada orang lain dengan ucapan & tingkah laku.
C. Jujur dan transparan selalu.
D. Dukung orang untuk belajar dari kesalahan.
E. Hindari melakukan generalisasi dan stereotyping, gen y sangat sensitif dengan hal tersebut.
F. Kepercayaan yang ditunjukkan akan mendapatkan kepercayaan balik.
G. Berikan masukan yang membangun dan bukan untuk menjatuhkan.

7. Tau bagaimana mengumpulkan data dan memanfaatkan jaringan sosial.

Berbagi informasi adalah hal yang dibutuhkan oleh Gen-Y.

8. Butuh fleksibilitas dalam segala aspek pekerjaan. Mereka tidak terbiasa dengan pembatasan, oleh karenanya jika ada batasan dalam organisasi, maka harus disampaikan secara jelas kepada mereka.

Gen-Y suka akan kecepatan, oleh karena itu tanyakan kepada mereka bagaimana mereka akan menyuksi apa yang mereka kerjakan dan bantu mereka bekerja lebih cepat lagi.

9. Kolaborator yang baik dan tau bagaimana bekerja secara tim.

Gen-Y tidak menyukai dipimpin secara mikro (micromamage), mereka senang berkolaborasi sebagai bagian dari tim.

10. Menghindari resiko karena kurang pengalaman.

Hindari hal-hal yang mereka belum bisa kendalikan dan fokus pada apa yang meteka bisa kendalikan.

Mereka sangat takut gagal karena terbiasa mendapat penghargaan dan pujian oramg tua. Oleh karena itu berikan mereka pengertian bahwa kegagalan adalah proses yang harus dilalui untuk mendapatkan pengalaman.

11. Membutuhkan aktualisasi diri atau menampilkan identitas diri.

12. Hanya akan melakulan hal yang diharapkan dari mereka saja.

Cari apa gairah atau “passion” mereka dan gunakan serta sesuaikan passion mereka dengan tanggung jawab yang akan dibebankan kepada mereka.

Untuk mengoptimalkan kinerja Gen-Y, maka metode ROWR atau Result-Only Work Environtment. Bukan banyaknya jam kerja yang diperlukan tetapi berapa banyak hasil yang sudah didapatkan.

13. Terbiasa didengar dan opini mereka dianggap penting.

14. Mencari self fulfillment bukan hanya sekedar bekerja.

Menurut penulis, berikut adalah hal-hal yang dapat memotivasi Gen Y dalam bekerja:
1. Keharusan adanya work-life balance.
2. Tidak mementingkan uang tetapi bagaimana pekerjaan itu cocok dengannya dan bagaimana lingkungannya cocok dengannya.
3. Kepuasaan kerja dan merasa terhubung, termasuk bimbingan yang konsisten, lingkungan kerja yang nyaman, dan kesempatan promosi atau belajar lebih penting dari gaji yang dibayarkan.

Biasakan mengucapkan terima kasih atas usaha yang dilakukan atau berhasil dan rayakanlah bersama mereka.

Gen-Y juga mengapresiasi dan menyenangi perusahaan yang tidak hanya mencari keuntungan tetapi juga memiliki nilai kepedulian terhadap sosial, lingkungan dan juga alam.

Buku ini juga dilengkapi dengan studi kasus dan beberapa tautan ke beberapa hasil riset.

Menurut saya buku ini sangat bermanfaat untuk mengetahui bagaimana karakter Gen-Y. Walaupun terkesan seperti men-generalisasi keberadaan Gen-Y, karena tidak semua Gen-Y seperti yang tersaji di dalam buku tersebut, namun setidaknya bisa memberikan kepada pembaca, terutama generasi pendahulunya latar belakang Gen-Y dan bagaimana bergaul dengan mereka.
Memang terkesan seperti memanjakan mereka, atau mungkin bisa jadi ada pendapat “kenapa kita harus beradaptasi dengan mereka? Bukannya mereka yang harus beradaptasi dengan kita sebagai pendahulunya”. Peryanyaan seperti itu tadinya juga mengusik saya, namun jika kita mempertahankan pertanyaan seperti itu, maka potensi Gen-Y tidak akan pernah bisa kita dapatkan secara optimal. Kebutuhan akan tenaga kerja muda sangat besar untu melakukan regenerasi dan suksesi, hal lainnya adalah, Gen-Y sudah hampir sekitar 10-20 tahun telah dibina dengan lingkungan dan cara didik yang dibentuk oleh orang tua dan lingkungannya, jadi…sanggupkah kita merubah mereka dalam waktu singkat? Tentu hal yang mustahil bukan? Jadi…akan sangat masuk akal jika generasi pendahulu yang harus melakukan penyesuaian apabila tidak ingin tergilas jaman dan mendapatkan kemajuan.

Advertisements