Judul buku: Social Intelligence 

Penulis: Daniel Goleman 

Penerbit: Arrow Books 

Tahun: 2007

393 Halaman & 6 Bab

Dalam pendahuluannya, Penulis menyatakan bahwa Korosi Sosial telah tetjadi & menjadi salah satu penyebab lemahnya Kecerdasan Sosial. Kecendrungan orang tua yang bekerja keras namun meninggalkan pengasuhan anak di rumah, menonton TV setidaknya 3 jam sehari dan kurang bersosialisasi adalah salah satu fakta dari 40% yang dialami anak di Amerika usia 2 tahun pada tahun 2007. 

Kemudian ada hal-hal yang tidak diketahui tentang bagaimana manusia bisa saling terhubung atau tidak ketika teknologi memberikan berbagai variasi pilihan komunikasi dalam keterisolasian yang nyata.

Sementara di sisi lain, terdapat penemuan bahwa hubungan antar manusia memiliki dampak jangka Panjang yang luar biasa bagi kehidupan, tak terlihat namun sangat kuat.

Kecerdasan Sosial, menurut penulis, terdiri dari 2 kategori, yaitu:

1. Kesadaran Sosial (Social Awareness), adalah spektrum yang bermula dari merasakan perasaan orang lain secara serta-merta, mencoba memahami perasaan dan pikirannya, kemudian mendapati situasi sosial yang rumit. Hal ini meliputi:

A. Empati Primal: merasakan perasaan orang lain; merasakan sinyal emosi non-verbal.

B. Ikut merasakan (Attunement) : mendengarkan dengan seksama; ikut merasakan seseorang.

Hal ini bisa terlihat ketika kita mendengarkan curahan hati atau percakapan orang lain, apakah kita ikut merasakan & menyimak (Penulis menyebutnya I and You coversation) atau multitasking mengerjakan hal lain atau mrnjaga jarak (Penulis menyebutnya I and It conversation). 

Dalam beberapa kasus Profesional, seperti polisi dan jurnalis misalnya, menjaga jarak (I and It) diperlukan agar tidak ada perasaan yang bercampur dalam menjalankan tugasnya.

Attunement juga termasuk memberikan ruang kepada seseorang untuk sendiri.

C. Akurasi Empati: memahami pikiran, perasaan dan maksud seseorang.

Kemampuan untuk memahami apa yang sedang dialami oleh orang lain adalah kemampuan manusia yang paling berharga. Ilmuan syaraf menamakannya “Mindsight”. Tanpa kemampuan ini kita akan menganggap manusia lain hanya sebagai objek saja dan menjadi “Mindblind”.

Untuk memiliki Mindsight, diperlukan 3 kemampuan dasar berikut: 

a.  membedakan satu dengan yang lain;

b. memahami bahwa orang lain punya pemikiran yang berbeda; dan

c. menyadari bahwa tujuan seseorang adalah yang terbaik menurutnya.

D. Kognisi Sosial: mencari tahu bagaimana dunia sosial bekerja.

Empati dan memahami orang lain lebih banyak dimiliki oleh Wanita, sementara Pria lebih baik dalam berpikir sistem. Wanita lebih berpikir ikatan, sementara Pria lebih berpikir nafsu. 

2. Fasilitas Sosial

Fasilitas sosial memperkuat kesadaran Sosial sehingga terbangun interaksi yang lancar dan efektif. Spektrumnya terdiri dari:

A. Sonkroni: berinteraksi secara baik pada tingkatan non verbal.

B. Tampilan diri: menampilkan diri sendiri secara efektif.

C. Pengaruh: menbentuk hasil dari interaksi sosial.

D. Kekhawatiran: perhatian terhadap kebutuhan orang lain dan tindakan kita terhadapnya.

Di dalam buku ini juga dibahas mengenai Kepribadian “Dark Triad” yaitu Narcissist, Machiavellians dan Psychopats. Menurut penulis Narsis adalah awal Mula dari Psikopat dan ditengahi oleh Machiavelkians layaknya sekuens.

Kecerdasan Sosial tidaklah diturunkan secara genetik, namun pengaruh dari pengasuhan, kebiasaan dan lingkungan. Orang tua yang mengasuh anaknya dengan baik akan memberikan perkembangan Kecerdasan Sosial pada anak. Orang tua harus mengupayakan pola pengasuhan secara “You” daripada sebagai “It”. Anak memerlukan tempat yang mereka pikir aman “safe haven”, dimana mereka bisa datangi ketika mereka merasa ketakutan, tidak nyaman atau cemas. Disinilah seharusnya orang tua berperan sebagai “safe haven”.

Kebiasaan membentuk seseorang secara proses. Ilmuan syaraf menamakannya  “Neural Scaffolding”, dimana apabila satu sirkuit di otak telah digunakan, maka koneksinya menjadi menguat dengan penggunaan berulang, itulah yang menjadikan pola tingkah laku.

Pernikahan yang bahagia juga menentukan kondisi kesehatan suami dan istri. Istri lebih sering memikirkan hal-hal buruk layaknya mereka juga memikirkan masa-masa bahagia. Istri yang bahagia juga menentukan kebahagian keluarga dan suaminya.

Perbedaan antara Pemimpin Hebat dan yang sedang-sedang saja adalah tingkat Kecerdasan Sosial mereka.

Pemimpin yang baik adalah orang yang memberikan kepercayaan, empati, terhubung, yang membuat timnya tenang, merasa diapresiasi dan terinspirasi. 

Orang-orang yang merasa bahwa bos mereka memberikan mereka dasar yang aman, cenderung akan lebih bebas melakukan eksplorasi, nyaman dengan pekerjaannya, mengambil resiko, berinovasi dan mengambil tantangan baru.

Pada Epilog dari buku, Penulis menunjukkan hasil survey mengenai hal-hal apa yang merupakan kebahagiaan orang, yaitu:

1. Teman-teman

2. Keluarga

3. Pasangan

4. Anak-anak

5. Klien atau pelanggan

6. Teman sekerja

7. bos

8. Sendirian.

Advertisements